Jakarta, CNBC Indonesia — Kinerja pasar saham domestik sepanjang April 2026 masih berada dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah cukup dalam.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Hasan Fawzi mengatakan bahwa pasar saham domestik April 2026 bergerak dinamis sejalan ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas global.
"Tetapi di tengah dinamika, resiliensi dan likuiditas pasar modal tetap terjaga," kata Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026, Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), IHSG ditutup di level 6.956,80 per 30 April 2026, atau turun 19,55% secara year-to-date (ytd). Pelemahan ini juga berlanjut secara bulanan dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang berada di level 7.048,22.
Tekanan tidak hanya terjadi pada indeks utama. Sejumlah indeks lain juga mengalami koreksi signifikan, di antaranya LQ45 turun sekitar 20,93% ytd, IDX80 melemah 20,92% ytd, dan Indeks saham syariah (ICBI) turun 1,01% ytd.
Tekanan IHSG tidak lepas dari arus dana asing yang masih mencatatkan outflow. Per April 2026, pasar saham mencatat net sell asing mencapai Rp49,87 triliun (ytd). Angka ini lebih dalam dibandingkan posisi Maret yang sebesar Rp32,85 triliun.
Aksi jual asing ini turut berdampak pada likuiditas pasar. Kapitalisasi pasar saham turun ke Rp12.382 triliun, nilai transaksi harian (RNTH) sedikit turun ke Rp24,99 triliun.
Meski demikian, ada satu indikator yang cukup positif. Jumlah investor pasar modal terus meningkat menjadi 26,49 juta, naik dari 24,74 juta pada Maret 2026. Ini menandakan partisipasi domestik masih tumbuh, meski belum mampu menahan tekanan dari capital outflow global.
Pun rentang spread bid dan ask di pasar saham April sebesar 1,33 kali. "Ini menunjukkan likuiditas pasar terjaga baik," kataya.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

















































