HKTI: Program MBG Dongkrak Gizi dan Ekonomi Petani

1 hour ago 3

 Program MBG Dongkrak Gizi dan Ekonomi Petani

Foto ilustrasi dapur Makan Bergizi Gratis, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA—Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi baru yang memberi manfaat langsung bagi petani, pelaku usaha pangan, hingga ekonomi daerah.

Ketua Harian HKTI Bachtiar Utomo mengatakan, program MBG memiliki peran strategis dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak dini, sekaligus memperluas serapan hasil produksi sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

“Program Makan Bergizi Gratis sangat baik untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekolah. Program ini juga mendukung ibu hamil dan balita sehingga dapat membantu menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” kata Bachtiar dalam keterangan resmi, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, kebutuhan bahan pangan dalam program MBG mendorong peningkatan permintaan terhadap produk petani lokal. Kondisi ini berdampak langsung pada peningkatan penyerapan hasil panen serta memperkuat rantai pasok pangan di berbagai daerah.

“Semakin tinggi kebutuhan pangan untuk Program MBG, semakin besar pula hasil produksi petani yang terserap. Dampaknya tentu sangat positif terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Selain sektor hulu, Bachtiar menilai program MBG juga membuka ruang pertumbuhan ekonomi di sektor hilir. Aktivitas mulai dari pengolahan makanan, distribusi, hingga operasional dapur penyedia makanan bergizi dinilai menciptakan banyak peluang kerja baru di daerah.

Data Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat, hingga 22 Mei 2026 Program MBG telah menyerap sekitar 1,28 juta tenaga kerja melalui operasional 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Program tersebut juga melibatkan 142.387 pemasok. Dari jumlah itu, 59.921 merupakan pelaku UMKM, 13.306 koperasi, 690 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), 1.410 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta 157 BUMDesma. Sementara itu, 66.903 pemasok lainnya berasal dari penyedia bahan pangan dan jasa pendukung.

HKTI menilai, keterlibatan berbagai sektor tersebut menunjukkan bahwa Program MBG memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional, khususnya di tingkat daerah.

“Program ini tidak hanya memberikan makanan bergizi kepada masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah. Ada petani yang hasil panennya terserap, UMKM yang berkembang, dan lapangan kerja yang tercipta,” kata Bachtiar.

Lebih lanjut, HKTI optimistis Program MBG dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mencetak generasi Indonesia yang lebih sehat dan produktif.

“Anak-anak mendapatkan gizi yang baik, petani semakin sejahtera, ekonomi daerah bergerak, dan pada akhirnya ketahanan pangan nasional semakin kuat,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|