Harga Pupuk Urea Global Naik Gila-gilaan, Kondisi di RI Tak Terduga

13 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga pupuk urea global melonjak tajam di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Kenaikan ini bahkan mencapai dua kali lipat, dipicu terganggunya jalur distribusi pupuk dunia yang selama ini sangat bergantung oleh Selat Hormuz.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi mengungkapkan, konflik di Selat Hormuz berdampak besar terhadap perdagangan pupuk global.

"Kami ingin mengupdate situasi yang hari-hari belakangan ini cukup hot, yaitu konflik di Selat Hormuz yang tidak hanya menutup jalur energi, tapi juga menutup jalur pupuk. 30 persen dari perdagangan pupuk dunia itu melalui Selat Hormuz," kata Rahmad saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Ia menjelaskan, volume pupuk yang melewati jalur tersebut sangat besar, mencapai jutaan ton setiap bulannya.

"30% kalau dalam volume itu kira-kira setiap bulan 4 juta ton keluar dari Selat Hormuz. 4 juta ton itu terdiri dari 1,5 juta ton urea, 1,5 juta ton sulfur, dan yang 1 juta ton itu pupuk macam-macam jenisnya, termasuk metanol di sana," jelasnya.

Akibat gangguan tersebut, harga urea global melonjak drastis dari sebelumnya sekitar US$400 menjadi US$800 per ton.

"Sehingga terjadi gejolak harga urea yang meningkat, sebelum perang itu US$400 dan sekarang sudah mencapai US$800 atau dua kali lipat," ungkap dia.

Namun di tengah lonjakan harga global, kondisi di dalam negeri justru relatif aman. Rahmad memastikan pasokan urea Indonesia tidak terdampak signifikan, karena diproduksi di dalam negeri.

Penyaluran pupuk bersubsidi. (Dok. Kementan)Foto: Penyaluran pupuk bersubsidi. (Dok. Kementan)
Penyaluran pupuk bersubsidi. (Dok. Kementan)

"Tapi kami bisa meyakinkan di depan bapak-bapak pimpinan dan anggota Komisi XI DPR RI, Insya Allah untuk Indonesia aman, karena urea-nya diproduksi dalam negeri. Bahkan hari ini Indonesia bisa menjadi stabilizer atau bahkan penyelamat ekosistem pangan dunia," tegas Rahmad.

Menurutnya, Indonesia justru berada pada posisi yang lebih kuat dibandingkan banyak negara lain yang bergantung pada impor.

"Kalau secara intuitif biasanya Indonesia situasinya rentan jika terjadi gejolak dunia. Khusus mengenai pupuk, kembali lagi kami tegaskan, khusus mengenai pupuk, kita tidak terjadi gangguan, khususnya kecukupan pupuk urea yang memang terganggu Selat Hormuz," imbuhnya.

Hal ini didukung oleh kapasitas produksi urea nasional yang cukup besar. Pupuk Indonesia mencatat kapasitas operasional mencapai 8,8 juta ton per tahun.

"Kapasitas pupuk urea kita ini 8,8 juta ton. Kapasitas terpasangnya memang 9,4 juta ton, tapi kapasitas operasional 8,8 juta ton karena sebagian memang sudah terlalu tua untuk dioperasikan," jelas dia.

Sementara itu, untuk jenis pupuk lain seperti fosfat dan potas, Rahmad menyebut pasokan global masih relatif aman meski ada potensi kenaikan biaya logistik.

"Kemungkinan yang lain-lain paling kalau pun terpengaruh karena faktor freight, tapi kami baru saja pulang dari konferensi pupuk, dan hadir banyak sekali supplier-supplier fosfat dan potas, semuanya meyakinkan tidak terjadi gangguan produksi di daerah-daerahnya," katanya.

Di dalam negeri, Rahmad juga memastikan harga pupuk bersubsidi tetap terkendali. Bahkan, harga eceran tertinggi (HET) telah diturunkan dan tidak akan dinaikkan kembali.

"Sehingga Insya Allah pupuk akan aman, HET sudah turun 20 persen, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET akan tetap. Dan kebutuhan pupuk urea baik untuk subsidi maupun non-subsidi di Indonesia, kami dapat yakinkan bisa terselenggara dengan baik," pungkas Rahmad.

(wur/wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|