Harga Plastik Melonjak, Industri Mamin Lirik Botol Kaca

5 hours ago 1

Harga Plastik Melonjak, Industri Mamin Lirik Botol Kaca Tas kresek atau kantong plastik. / Freepik

Harianjogja.com, BANTUL — Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mulai mempertimbangkan penggunaan kemasan alternatif menyusul lonjakan harga plastik yang dipicu gangguan pasokan global.

Kenaikan harga ini terjadi seiring terganggunya suplai bahan baku plastik yang sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah.

Produsen Mulai Lirik Botol Kaca

Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, mengatakan produsen kini mengkaji ulang penggunaan kemasan, termasuk kemungkinan kembali ke botol kaca.

Menurutnya, sejumlah produsen minuman yang sebelumnya beralih dari kaca ke plastik kini mempertimbangkan langkah sebaliknya.

“Kami harus mencari alternatif. Beberapa produsen yang dulu menggunakan botol kaca lalu beralih ke plastik, sekarang mulai mempertimbangkan kembali ke kaca,” ujarnya dalam pameran di Jogja Expo Center, Rabu (8/4/2026).

Harga Plastik Naik hingga 100 Persen

Adhi mengungkapkan, harga plastik di tingkat pedagang dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat atau sekitar 100 persen.

Kondisi ini sangat dirasakan oleh pelaku usaha kecil, terutama karena kapasitas industri hulu plastik dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan nasional.

Selain itu, sejumlah negara produsen juga mengurangi bahkan menghentikan produksi akibat kesulitan bahan baku.

“Karena itu, kami juga mencari alternatif pemasok dari luar Timur Tengah,” katanya.

Pameran Dorong Inovasi Industri

Sementara itu, CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, menjelaskan pameran makanan dan minuman yang digelar berlangsung selama 8–11 April 2026.

Sebanyak 120 peserta ambil bagian, termasuk 30 pelaku UMKM. Pameran ini menampilkan berbagai produk, mulai dari bahan baku, makanan olahan, hingga teknologi pengolahan dan pengemasan.

Daud berharap ajang ini dapat mendorong peningkatan kualitas produk industri makanan dan minuman, baik skala UMKM maupun industri besar.

Selain potensi transaksi, pameran juga diramaikan berbagai kegiatan seperti kompetisi kuliner dan lomba memasak yang mengangkat makanan khas lokal.

“Nantinya ada kompetisi kuliner yang menampilkan makanan tradisional seperti mi godog dan jajanan pasar, yang juga akan dipromosikan di hotel dan restoran di Jogja,” ujarnya.

Pameran ini diharapkan memberi manfaat luas bagi pelaku usaha serta masyarakat, sekaligus menjadi ajang promosi produk lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|