Harga Pertamax Naik, Pemkot Jogja Siapkan Operasi Pasar-Sembako Murah

5 hours ago 2

Harga Pertamax Naik, Pemkot Jogja Siapkan Operasi Pasar-Sembako Murah

Foto ilustrasi krisis BBM. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Lonjakan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter memicu respons cepat Pemerintah Kota Jogja. Kenaikan dari sebelumnya Rp12.300 tersebut dinilai berpotensi menimbulkan efek domino, mulai dari biaya distribusi, logistik, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok di tingkat masyarakat.

Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, menegaskan bahwa Pemkot tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Sejumlah langkah antisipatif langsung disiapkan, termasuk operasi pasar dan program sembako murah yang menyasar warga di tingkat kelurahan.

“Kami ingin intervensi dilakukan langsung ke masyarakat. Jangan menunggu dampaknya meluas baru bergerak,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax yang mencapai sekitar 30 persen akan berdampak signifikan pada sektor ekonomi, terutama pada pelaku usaha skala menengah. Mereka dinilai paling rentan karena bergantung pada distribusi barang dalam skala besar dan biaya operasional yang tinggi.

Wawan menjelaskan, peningkatan harga BBM akan mendorong naiknya ongkos produksi dan distribusi. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Meski demikian, sektor pariwisata di Jogja disebut masih cukup stabil. Tingkat okupansi hotel tetap tinggi seiring momentum liburan, sehingga diharapkan bisa menjadi penopang ekonomi daerah di tengah tekanan biaya.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi, Pemkot Jogja juga mendorong pembentukan Tim Percepatan Pemulihan Ekonomi. Selain itu, sektor perbankan diharapkan turut berkontribusi melalui kebijakan relaksasi kredit, khususnya bagi pelaku usaha yang terdampak kenaikan biaya operasional.

Di sisi lain, Dinas Perdagangan Kota Jogja akan memperkuat program intervensi pasar. Operasi pasar dan penjualan sembako murah akan difokuskan di wilayah kelurahan agar lebih tepat sasaran dan mudah diakses masyarakat berpenghasilan rendah.

Langkah ini dinilai penting sebagai bentuk mitigasi dini agar kenaikan harga BBM tidak berkembang menjadi krisis ekonomi di tingkat lokal.

Dampak kenaikan harga Pertamax juga mulai dirasakan warga. Salah satunya Sutanto, warga Umbulharjo, yang mengaku pengeluaran BBM mingguannya meningkat signifikan.

“Biasanya habis sekitar Rp80.000, sekarang jelas lebih besar,” katanya.

Ia memilih tetap menggunakan Pertamax meski harga naik, karena enggan beralih ke BBM subsidi seperti Pertalite yang antreannya kerap panjang. Kondisi ini membuat beban pengeluaran rumah tangga semakin bertambah.

Dengan berbagai langkah yang disiapkan, Pemkot Jogja berharap tekanan ekonomi akibat kenaikan harga BBM bisa ditekan, sekaligus menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|