Gunung Lawu Terbakar, Habitat Macan Tutul hingga Babi Hutan Terancam

5 hours ago 4

Gunung Lawu Terbakar, Habitat Macan Tutul hingga Babi Hutan Terancam

Kepulan asap tebal kebakaran hutan lindung kawasan Gunung Lawu masuk wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Kamis (17/9/2026) sore. (SOLOPOS/Imam Mustajab)

Harianjogja.com, NGAWI— Kebakaran hutan lindung di kawasan Gunung Lawu wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mulai menimbulkan ancaman terhadap habitat sejumlah satwa liar. Jika api bergerak turun hingga kawasan hutan produksi yang berada di bawah hutan lindung, satwa seperti elang hitam, macan tutul, menjangan, dan babi hutan berpotensi mencari tempat perlindungan ke wilayah yang lebih rendah.

Asisten Perhutani (Asper) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Utara, Nanang Sunarko, mengatakan sejumlah satwa masih ditemukan di sekitar petak 41, 42, dan 48A RPH Campurejo. Kawasan tersebut menjadi salah satu habitat satwa liar yang masih berada di sekitar lokasi kebakaran.

Nanang menjelaskan petak 48A RPH Campurejo berbatasan dengan petak 41 dan 39. Kawasan itu menjadi habitat sejumlah satwa, termasuk macan tutul dan harimau loreng.

Sementara itu, kobaran api hingga Kamis malam telah memasuki petak 39 RPH Manyol serta petak 41 RPH Campurejo, BKPH Lawu Utara. Di kawasan tersebut terdapat enam titik api.

“Di petak 41 sampai petak 48 itu satwanya mulai dari burung elang hitam, kemudian macan tutul, harimau loreng, ular, menjangan, dan babi hutan. Babi hutan juga masih banyak,” ujarnya saat ditemui, Jumat (18/9/2026).

Vegetasi di Kawasan Kebakaran Mudah Terbakar

Petak 39 berada di wilayah Kecamatan Jogorogo dan termasuk kawasan hutan lindung. Vegetasi di lokasi tersebut didominasi tanaman ekaliptus dan cemara, sedangkan bagian bawahnya ditumbuhi perdu yang mudah terbakar ketika kondisi kering.

Kondisi pergerakan api menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena berkaitan dengan keberadaan satwa di kawasan tersebut. Nanang menyebut kondisi satwa untuk sementara masih relatif aman selama api bergerak menuju bagian atas kawasan hutan.

Dengan arah pergerakan tersebut, satwa diharapkan tidak terdorong meninggalkan habitatnya menuju kawasan yang lebih rendah dan mendekati permukiman warga.

“Kalau api ini naik, insya Allah terkondisi. Tidak sampai satwa-satwa itu terdampak dan turun ke bawah,” jelasnya.

Namun, situasinya dapat berbeda apabila kobaran api justru bergerak turun menuju habitat satwa. Ketika tempat berlindungnya terdampak kebakaran, satwa liar dapat mencari lokasi yang dinilai lebih aman dengan bergerak ke wilayah yang lebih rendah.

Pergerakan tersebut berpotensi membuat satwa mendekati permukiman warga apabila api terus menjalar ke kawasan di bawah hutan lindung.

Nanang memastikan kebakaran hingga saat ini belum menjalar ke kawasan hutan produksi. Kondisi itu membuat sejumlah habitat dan kawasan yang berada di bawah pengelolaan Perhutani masih relatif terlindungi dari dampak langsung kebakaran.

Luasan Kebakaran Belum Dipastikan

Di tengah upaya memantau pergerakan api, pihak Perhutani belum dapat memastikan luasan kawasan yang terbakar. Petugas masih berhati-hati untuk masuk ke lokasi karena kondisi medan dan kobaran api masih bergerak.

Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap batas kebakaran tetap menjadi perhatian. Terlebih, pergerakan api ke arah bawah dapat membawa konsekuensi berbeda terhadap habitat satwa yang berada di sekitar petak-petak hutan tersebut.

Nanang kembali menegaskan bahwa ancaman terhadap satwa akan meningkat apabila api bergerak menuju kawasan yang lebih rendah. Satwa yang kehilangan tempat berlindung dapat turun mencari lokasi aman hingga mendekati permukiman.

“Kalau api itu nanti turun ke bawah, dampaknya tetap satwa itu mencari perlindungan, bisa turun sampai pemukiman. Tapi alhamdulillah, dampak kebakaran ini belum sampai menjalar ke hutan produksi,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Solopos

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|