Gen Z, AI, dan Pemangkasan Anggaran Perpusnas Jadi Tantangan Literasi

5 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA— Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dan maraknya konsumsi konten digital berdurasi singkat mengubah cara masyarakat, terutama Generasi Z (Gen Z), memperoleh informasi. Di tengah perubahan tersebut, pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 2026 dinilai berpotensi memperbesar tantangan dalam menjaga budaya membaca dan memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Jogja (UMY), Novy Diana Fauzie, menilai perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi tidak serta-merta menunjukkan minat baca yang menurun. Menurutnya, kemajuan teknologi telah mengubah media yang digunakan masyarakat untuk belajar dan mencari pengetahuan.

Pola Akses Informasi Berubah, Minat Belajar Tetap Ada

Data Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai 72,44 atau melampaui target nasional sebesar 71,3. Meski demikian, Novy mengingatkan bahwa perubahan pola konsumsi informasi tetap perlu menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap kemampuan berpikir mendalam.

Menurutnya, ponsel pintar menghadirkan beragam kemudahan melalui konten visual, kelas daring, hingga podcast yang dapat diakses kapan saja. Namun, kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi berupa informasi yang cenderung terpotong-potong.

"Kemudahan ponsel dan algoritma membuat orang betah. Jadi bukan masyarakat malas, tetapi pola aksesnya yang berubah," kata Novy.

Ia menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi konten singkat berpotensi mengurangi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi dalam waktu lama. Padahal, membaca buku secara utuh selama satu hingga dua jam dinilai mampu melatih daya analisis, imajinasi, dan kedalaman berpikir yang tidak mudah diperoleh melalui konten visual.

AI Dinilai Tidak Bisa Menggantikan Buku dan Jurnal

Di sisi lain, perkembangan AI juga dinilai membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Novy menegaskan teknologi tersebut sebaiknya digunakan sebagai alat bantu untuk memperoleh gambaran awal suatu materi, bukan sebagai pengganti sumber referensi utama.

"AI boleh membantu gambaran awal. Namun untuk pemahaman utuh, kita tetap wajib membaca sumber aslinya," tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap ringkasan instan dari AI berisiko melemahkan kemampuan berpikir kritis, terutama bagi mahasiswa yang dituntut mampu melakukan analisis, memverifikasi referensi, dan menyusun argumentasi secara mandiri.

Untuk menumbuhkan kembali kebiasaan membaca, Novy menyarankan masyarakat memulai dari bacaan yang sesuai dengan minat masing-masing, seperti novel, komik, maupun buku pengembangan diri, tanpa harus langsung memilih buku akademik yang lebih berat.

"Bacalah apa yang disukai terlebih dahulu. Temukan satu buku yang membuat jatuh cinta pada aktivitas membaca," tuturnya.

Pemangkasan Anggaran Perpusnas Dinilai Berdampak pada Literasi

Novy juga menyoroti kebijakan efisiensi anggaran yang membuat pagu Perpusnas pada 2026 turun menjadi Rp377,99 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan pagu awal 2025 sebesar Rp721,68 miliar.

Akibat kebijakan tersebut, sejumlah program bantuan distribusi buku ke desa, taman bacaan masyarakat (TBM), lembaga pemasyarakatan, hingga fasilitas kesehatan dihentikan. Menurut Novy, kondisi tersebut patut menjadi perhatian karena perpustakaan daerah dan TBM memiliki peran penting sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat, terutama bagi masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Ia menilai pemotongan anggaran tersebut berpotensi mengurangi akses masyarakat terhadap bahan bacaan berkualitas yang selama ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas SDM sejak dini.

Kolaborasi Dinilai Menjadi Solusi di Tengah Efisiensi

Menghadapi keterbatasan anggaran, Novy mendorong kolaborasi antara sekolah, perpustakaan, komunitas, keluarga, dan berbagai lembaga untuk menjaga budaya membaca tetap berkembang.

Ia mengusulkan berbagai langkah sederhana, seperti rotasi buku favorit antarsiswa, gerakan donasi buku yang terarah, hingga pengembangan layanan buku digital, audiobook, dan pemanfaatan media sosial oleh perpustakaan agar mampu menjangkau lebih banyak masyarakat.

Meski demikian, Novy menegaskan bahwa upaya kolaboratif tersebut tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran pemerintah dalam mendukung pembangunan literasi nasional.

Menurutnya, pengurangan program literasi akibat efisiensi anggaran menunjukkan bahwa literasi belum menjadi prioritas utama, padahal budaya membaca merupakan fondasi penting dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|