El Nino Bikin Lahan Kering, Aktivitas Manusia Picu Karhutla

4 hours ago 5

El Nino Bikin Lahan Kering, Aktivitas Manusia Picu Karhutla

Petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di salah satu wilayah Kalimantan./Istimewa-Badan Komunikasi Pemerintah\r\n\r\n

Harianjogja.com, JOGJA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Kalimantan tidak hanya dipengaruhi kondisi cuaca yang semakin kering akibat El Nino. Aktivitas manusia juga menjadi faktor penting yang dapat memicu munculnya api hingga berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Pakar Kebijakan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rijal Ramdani, menjelaskan El Nino berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan sekaligus memperpanjang periode kering. Kondisi tersebut menyebabkan vegetasi dan lahan gambut kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar.

Kondisi itu sejalan dengan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada akhir Agustus 2026, BMKG mencatat El Nino kategori sangat kuat masih menjadi salah satu faktor yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia.

Situasi tersebut membuat sejumlah wilayah semakin rentan mengalami kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan.

“Musim kemarau itu bisa menjadi lebih panjang karena El Nino. Akibatnya, ketersediaan ilalang dan hutan yang kering menjadi rentan untuk terbakar,” ujarnya dalam rilis Humas UMY dikutip Minggu (30/8/2026).

Menurut Rijal, risiko kebakaran semakin besar ketika kondisi lahan yang kering juga disertai cuaca panas dan angin kencang. Angin dapat mempercepat penyebaran api ketika kebakaran sudah terjadi.

Namun, Rijal menegaskan El Nino bukan sumber api yang secara langsung menyebabkan karhutla. Fenomena tersebut lebih berperan menciptakan kondisi lingkungan yang kering dan mudah terbakar. Sementara itu, tetap diperlukan sumber api untuk memulai kebakaran.

Penjelasan tersebut sejalan dengan sistem peringatan karhutla BMKG yang memetakan kondisi meteorologis yang mendukung terjadinya kebakaran apabila terdapat sumber api atau hotspot.

Dengan demikian, kondisi cuaca dapat meningkatkan tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap kebakaran, tetapi tidak secara otomatis menjadi penyebab munculnya api.

Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Karhutla

Rijal mengatakan sumber api dalam banyak kejadian karhutla justru berkaitan dengan aktivitas manusia. Salah satu yang paling berisiko adalah praktik pembukaan lahan untuk berkebun atau bercocok tanam dengan cara membakar.

“Kalau tidak ada El Nino, sebenarnya praktik membakar untuk bercocok tanam bisa dikendalikan. Tetapi, karena kondisi kering dan angin kencang, api menjadi sulit dikendalikan,” jelasnya.

Kementerian Lingkungan Hidup juga menyebut berbagai penelitian menunjukkan sebagian besar kebakaran hutan dan lahan bukan merupakan bencana alam murni. Banyak kasus kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian.

Selain pembukaan lahan, Rijal mengingatkan sejumlah aktivitas lain yang berpotensi menjadi sumber api. Salah satunya pencarian madu hutan dengan memanfaatkan asap untuk mengusir lebah.

Aktivitas di kawasan hutan juga perlu dilakukan dengan kehati-hatian, terutama apabila meninggalkan api atau bara yang belum benar-benar padam.

"Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga perlu diwaspadai, terutama ketika dilakukan di kawasan gambut yang telah mengering. Serbuk-serbuk kecil dari gambut yang kering juga bisa terbakar,” ungkap Rijal.

Risiko tersebut semakin tinggi pada lahan gambut. Ketika kehilangan kelembapan, gambut dapat berubah menjadi material yang mudah terbakar.

Api yang muncul di lahan gambut juga dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit dibandingkan kebakaran pada permukaan lahan biasa.

El Nino dan Api Manusia Tingkatkan Risiko

Rijal menjelaskan perpaduan antara kondisi kering akibat El Nino dengan sumber api dari aktivitas manusia membuat risiko karhutla meningkat selama musim kemarau.

Semakin kering vegetasi dan lahan, semakin besar peluang api kecil berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan. Angin kencang juga dapat mempercepat penjalaran api ke area di sekitarnya.

Karena itu, pemahaman mengenai faktor penyebab karhutla menjadi penting agar penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi.

Upaya pencegahan perlu diarahkan pada pengurangan sumber api sekaligus menjaga kondisi lahan agar tidak semakin mudah terbakar.

Edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan, penggunaan api di kawasan hutan dan gambut, serta kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan perlu diperkuat sebagai bagian dari strategi pencegahan jangka panjang.

"Upaya tersebut perlu berjalan bersama patroli, deteksi dini, pembasahan gambut, dan pemantauan kondisi cuaca," katanya.

BMKG sebelumnya telah mengingatkan sejak April 2026 bahwa periode kritis karhutla diperkirakan berlangsung mulai Mei hingga September. Risiko kebakaran meningkat pada Agustus-September seiring meluasnya wilayah dengan curah hujan di bawah normal.

Menurut Rijal, strategi pencegahan diperlukan untuk mengubah pola penanganan karhutla yang selama ini lebih banyak mengandalkan pemadaman setelah api meluas.

Pencegahan sejak awal dinilai dapat mengurangi potensi kebakaran sekaligus menekan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Masyarakat perlu memahami bahwa dalam kondisi sangat kering, aktivitas yang menghasilkan api sekecil apa pun dapat menjadi pemicu kebakaran,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|