Ekonom: Kenaikan BI Rate 5,5 Persen Bantu Kurangi Tekanan Cadangan Devisa

1 hour ago 2

Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Taklimat Media yang digelar secara daring, Rabu (20/5/2026). Bank Indonesia resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa yang selama ini digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan kenaikan suku bunga menjadi salah satu cara untuk memperkuat daya tarik aset rupiah sehingga kebutuhan intervensi menggunakan cadangan devisa dapat berkurang.

“Kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen memperkuat daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal asing, serta mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa yang selama ini digunakan untuk stabilisasi rupiah,” ujar Josua kepada Republika, Selasa (9/6/2026).

Menurut dia, keputusan BI menaikkan BI Rate merupakan langkah yang tepat karena pelemahan rupiah sudah lebih dalam dari perkiraan. Di saat yang sama, gejolak global masih tinggi dan pasar membutuhkan sinyal bahwa bank sentral tidak membiarkan tekanan terhadap rupiah berlangsung tanpa respons kebijakan.

Meski demikian, Josua mengingatkan kenaikan suku bunga belum tentu membuat rupiah langsung menguat. Sebab, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi selisih imbal hasil dengan aset dolar AS, melainkan juga kombinasi faktor global dan domestik.

Dari sisi global, konflik di Timur Tengah, tingginya harga minyak, serta suku bunga Amerika Serikat yang masih bertahan tinggi membuat investor cenderung mencari aset yang lebih aman. Sementara dari dalam negeri, pasar masih mencermati kredibilitas fiskal, arah kebijakan pemerintah, kepastian regulasi, serta arus keluar dana dari pasar saham.

“Karena itu, kenaikan BI Rate lebih tepat dilihat sebagai langkah untuk meredam tekanan jangka pendek, bukan solusi tunggal untuk memulihkan rupiah,” kata Josua.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|