Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak kehadiran teknologi AI terhadap kemampuan akademis siswa mulai tampak. Dosen di University of California sampai meminta agar universitas mereka kembali menerapkan ujian masuk kuliah karena kini kemampuan matematika para mahasiswa baru bahkan tidak sampai level SMP.
Futurism yang mengutip The Wall Street Journal melaporkan bahwa permintaan tersebut disampaikan para dosen lewat surat kepada jajaran pemimpin di University of California.
Universitas di Amerika Serikat biasanya menggunakan ujian tertulis standar seperti SAT dan ACT. Namun, seluruh kampus yang tergabung di University of California menerapkan kebijakan yang melarang penggunaan ujian tertulis sebagai syarat masuk.
Alasan University of California adalah ujian tertulis dinilai bias terhadap ketimpangan rasial. Selain ujian tersebut berbayar, siswa yang berasal dari keluarga mampu diuntungkan karena bisa mengikuti berbagai les persiapan. Bahkan, siswa kulit putih punya potensi 13 kali lebih tinggi dibanding siswa dari keluarga tidak mampu dari berbagai latar belakang.
Permasalahannya, menurut para dosen matematika dan sains di University of California, kini sepertiga dari mahasiswa yang baru pertama kalinya mengikuti mata kuliah kalkulus menunjukkan "defisit kesiapan yang parah."
"Kami mengamati bahwa selisih kesiapan sangat parah sehingga pengajar harus mengajarkan lagi matematika tingkat SMP sambil mengajarkan materi yang dibutuhkan untuk sains, teknik, ekonomi, dan bidang lain yang butuh kemampuan kuantitatif. Sumber daya UC terbatas dan hanya bisa membantu mahasiswa dalam jumlah terbatas," kata mereka.
Sejak Covid, menurut WSJ, 90 persen universitas di AS tidak menggunakan tes tertulis untuk penerimaan mahasiswa baru.
Namun kini, kampus ternama mulai mengubah kebijakan itu. MIT kembali menjadikan SAT sebagai syarat mulai 2022, Harvard pada 2024, dan Yale pada 2026.
Menurut Futurism, dunia pendidikan berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir dengan munculnya chatbot AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude yang memudahkan "curang." Banyak ahli pendidikan skeptis soal penggunaan AI dalam pendidikan, bahkan penggunaan AI terlalu sering dikaitkan dengan mudah lupa dan hilangnya pikiran kritis.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































