REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama pada anak-anak. Karena itu, orang tua perlu membatasi aktivitas anak di luar rumah serta memastikan lingkungan tempat tinggal terlindungi dari paparan abu selama erupsi berlangsung.
Dokter Spesialis Anak RSIA Bina Medika, dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, Sp.A, CIMI, melalui utasnya di media sosial menjelaskan sejumlah langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik.
Leonirma mengingatkan orang tua untuk menghindari paparan abu secara langsung. Selama abu masih turun, anak sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik atau bermain di luar rumah.
Ia juga mengingatkan penggunaan masker pada anak. Menurut dia, masker tidak dianjurkan untuk bayi berusia di bawah dua tahun karena berpotensi mengganggu jalan napas. Selain itu, bayi pada usia tersebut belum mampu melepas masker sendiri apabila mengalami kesulitan bernapas.
Sementara bagi anak berusia dua tahun ke atas, masker dapat digunakan dengan catatan ukurannya harus sesuai dengan wajah. Masker yang terlalu besar, longgar, atau mudah melorot dinilai tidak memberikan perlindungan secara optimal.
Leonirma juga meminta orang tua mengendalikan kualitas udara di dalam rumah. Selama abu turun, pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat. Jika menggunakan pendingin ruangan, mode yang mengambil udara dari luar perlu dimatikan.
“Kalau punya air purifier, sekarang waktunya dipakai,” tulis Leonirma.
Abu Jangan Dibersihkan dalam Kondisi Kering
Selain menjaga udara di dalam rumah, cara membersihkan abu vulkanik juga perlu diperhatikan. Leonirma menyarankan abu yang sudah mengendap di halaman atau lingkungan rumah dibasahi atau disiram terlebih dahulu sebelum dibersihkan.
Menurut dia, membersihkan abu dalam kondisi kering dapat membuat partikel yang sudah mengendap kembali beterbangan sehingga lebih mudah terhirup.
Orang tua juga disarankan tidak langsung membawa masuk barang-barang dari luar yang telah terpapar abu, seperti sepatu, jaket, atau tas. Jika baru beraktivitas di luar dan terkena abu, orang tua sebaiknya membersihkan diri serta mengganti pakaian sebelum menggendong bayi.
Perlindungan juga perlu diberikan terhadap mata dan kulit anak. Jika abu masuk ke mata, anak sebaiknya tidak menguceknya karena dapat memperparah iritasi. Mata dapat segera dibilas menggunakan air bersih atau air mata buatan.
Sementara itu, kulit yang terkena abu perlu segera dibersihkan menggunakan air mengalir, termasuk memperhatikan area lipatan kulit.
Leonirma turut mengingatkan kebersihan air minum dan makanan selama terjadi paparan abu vulkanik. Wadah penyimpanan air dan makanan perlu ditutup rapat untuk mencegah masuknya abu.
Bahan makanan yang terkena abu, khususnya bahan yang akan digunakan untuk mengolah makanan pendamping ASI (MPASI), perlu dicuci bersih sebelum diolah.
Kenali Gangguan Pernapasan
Menurut Leonirma, orang tua juga perlu mengenali tanda bahaya pada anak setelah terpapar abu vulkanik. Anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan apabila mengalami napas cepat atau tampak kesulitan bernapas, terdapat tarikan pada dinding dada, bibir tampak kebiruan, atau bayi menolak menyusu maupun minum sama sekali.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga asupan cairan. Anak yang mengalami batuk atau iritasi saluran pernapasan dapat menjadi lebih rewel dan mengurangi asupan minum.
Karena itu, orang tua disarankan tetap menawarkan ASI atau minuman kepada anak lebih sering selama periode paparan abu vulkanik.

3 hours ago
5













































