Di Balik Keffiyeh Itu, 100 Tahun Gontor

2 hours ago 4

Oleh: Nur Hadi Ihsan, Dosen Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satu seruan tentang Palestina dari Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menyeberang ke ruang redaksi dunia.

Gontor tidak sibuk memperkenalkan diri. Namun pada Sabtu, 19 September 2026, satu seruan tentang Palestina dari sebuah aula di Ponorogo sudah cukup untuk sampai ke ruang-ruang redaksi di luar negeri.

Di aula itu, Gontor sedang merayakan seratus tahun usianya. Presiden Prabowo Subianto menyapa para duta besar satu per satu. Ketika tiba pada Duta Besar Palestina, ruangan bergemuruh, dan sebuah seruan terdengar tiga kali.

Dari Gontor, "Free Palestine"

Resepsi Kesyukuran 100 Tahun itu digelar di Balai Pertemuan Pondok Modern, dihadiri ribuan santri, alumni, tokoh, dan perwakilan negara sahabat. Acara berjalan sebagaimana peringatan besar lazimnya, sampai sang Presiden menyebut nama Abdulfattah A.K. Al-Sattari, Duta Besar Palestina untuk Indonesia.

Prabowo menyerukan "Free Palestine" tiga kali, dan hadirin menjawab serentak. Sang duta besar lalu menghampiri dan mengalungkan keffiyeh ke pundaknya. Keduanya berpelukan. Presiden menunduk, menyeka mata dengan kain itu, dan dalam pidato selanjutnya kembali berseru dua kali.

Ia mengaku teringat saudara-saudara di Palestina yang, katanya, dibantai, dibom, dan terus diserang, sementara Indonesia "seolah-olah kurang berdaya" untuk membantu mereka.

Namun seruan itu tidak berhenti sebagai ungkapan solidaritas. Prabowo menariknya menjadi pesan bagi Indonesia: penderitaan Palestina harus membangkitkan kehendak untuk belajar sungguh-sungguh, membangun bangsa yang kuat dan berdikari, serta belajar dari sejarah agar tidak kembali dijajah. "Kita harus belajar dari sejarah, untuk membangun sejarah," katanya.

Menyeberang ke Luar Negeri

Pada hari yang sama, peristiwa itu muncul di sejumlah media asing. Anadolu Agency menurunkan laporan berjudul "Indonesian president chants 'Free Palestine' at reception". TRT World memakai judul serupa, sementara Middle East Monitor memuat laporan Anadolu. Semuanya merujuk pada pemberitaan Antara.

Ada yang menarik di sini. Dalam laporan-laporan itu, Gontor tidak disebut namanya. Acaranya digambarkan sebagai peringatan seabad "sebuah sekolah Islam", dan satu media bahkan keliru menempatkannya di Jakarta. Hanya The Times of Israel yang menyebut nama Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, dan media itu menghubungkan seruan tersebut dengan pidato Prabowo di Majelis Umum PBB hampir setahun sebelumnya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|