REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Daya saing investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi sumber daya, tetapi juga kepastian kebijakan, regulasi, pasar, dan kecepatan pelaksanaan proyek. Penguatan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dinilai menjadi faktor penting untuk mempercepat eksplorasi hingga produksi migas.
Pengamat migas Universitas Trisakti sekaligus Founder ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan Indonesia masih memiliki potensi sumber daya migas yang besar. Namun, potensi tersebut perlu ditopang kondisi investasi yang kompetitif agar mampu menarik modal global.
"Dari sisi underground risk, kita termasuk tiga atau empat besar di Asia Pasifik. Sementara dari sisi above ground risk, faktor yang diperhatikan antara lain kepastian politik, visi dan arah ekonomi, regulasi dan kebijakan, birokrasi perizinan, kejelasan market, serta infrastruktur pendukung," kata Pri Agung.
Menurut dia, sejumlah perusahaan migas internasional masih melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi potensial. Di antaranya Eni, Petronas, dan Mubadala.
Namun, keputusan investasi juga dipengaruhi oleh kecepatan eksekusi proyek. Jarak waktu yang panjang antara penemuan cadangan atau discovery hingga proyek mulai berproduksi (onstream) dapat memengaruhi persepsi investor sekaligus keekonomian proyek.
"Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor," ujar Pri Agung.
Pri Agung menilai pemerintah telah melakukan sejumlah perbaikan dari sisi fiskal. Meski demikian, persaingan untuk mendapatkan modal global tetap ketat karena proyek migas Indonesia harus berkompetisi dengan portofolio investasi di negara lain.
Karena itu, keberhasilan kebijakan investasi tidak cukup hanya dilihat dari kenaikan nilai investasi. Dampak yang lebih konkret, menurut dia, perlu tercermin dalam peningkatan cadangan dan produksi migas.
Kepercayaan investor terhadap sektor hulu migas juga tercermin dari keputusan investasi dan kemampuan proyek untuk dieksekusi. Sejumlah proyek seperti Abadi Masela dan North Hub/Geng North–Gehem, aktivitas eksplorasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta peluang pengembangan wilayah kerja migas baru menjadi bagian dari agenda yang perlu dikawal hingga tahap realisasi.
Regional President Asia Pacific bp, Kathy Wu, sebelumnya menyampaikan bahwa persaingan memperoleh alokasi modal di tingkat global semakin ketat. Dalam kondisi tersebut, kemitraan strategis dengan pemerintah menjadi salah satu faktor penting untuk membangun kepercayaan investor.
"Proyek di Indonesia harus benar-benar kompetitif, baik dari sisi tingkat pengembalian investasi, risiko, kepastian pelaksanaan, hingga kepastian bahwa hasil yang dihitung di atas kertas benar-benar dapat terealisasi," jelas Kathy.
Hal serupa disampaikan Presiden ExxonMobil Indonesia Wade Floyd. Ia mencontohkan perjalanan ExxonMobil di Indonesia selama 128 tahun, termasuk melalui Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang menjadi salah satu penopang produksi minyak nasional.
"Sejarah panjang kami dibangun atas dasar kemitraan dan kolaborasi. Menurut saya, itulah salah satu alasan keberhasilan Indonesia saat ini," kata Wade.
Penguatan kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha menjadi salah satu fokus dalam FOREK Hulu Migas 2026. Forum tersebut membahas penguatan ekosistem investasi untuk mendorong eksplorasi, pengembangan proyek, peningkatan produksi, dan ketahanan energi nasional.
Daya saing investasi hulu migas mencakup sejumlah faktor, mulai dari kebijakan fiskal, skema kontrak, proses bisnis, teknologi, infrastruktur, kepastian pasar hingga kecepatan pengambilan keputusan.
Insentif investasi juga perlu menghasilkan dampak yang terukur. Indikatornya antara lain tambahan investasi, peningkatan cadangan dan produksi, kenaikan lifting, penerimaan negara, serta manfaat ekonomi yang lebih luas.

4 hours ago
5
















































