CEO Microsoft AI Prediksi Pekerjaan Kantoran Terotomatisasi 18 Bulan

11 hours ago 6

Harianjogja.com, JOGJA—CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, memprediksi pekerjaan kantoran atau white collar akan terotomatisasi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan akibat lonjakan kemampuan kecerdasan buatan (AI). Prediksi ini memicu kekhawatiran baru di pasar tenaga kerja profesional, terutama bagi pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga tenaga pemasaran.

Mustafa Suleyman menyampaikan bahwa model AI generasi terbaru kini berada di ambang performa setara manusia untuk hampir seluruh tugas profesional. Pernyataan tersebut mempertegas ancaman nyata otomatisasi di sektor kerja berbasis pengetahuan yang selama ini dianggap relatif aman dari disrupsi teknologi.

Laporan Futurism, Senin (16/2/2026), mengungkapkan transformasi itu sudah terlihat jelas di bidang rekayasa perangkat lunak. Sekitar 25 persen kode di Microsoft saat ini ditulis secara otomatis oleh sistem AI. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya adopsi AI dalam proses produksi teknologi.

Dengan semakin berkurangnya penulisan kode manual, para pemrogram mulai mengalihkan fokus ke tugas yang lebih kompleks seperti debugging, perancangan arsitektur sistem, serta pengawasan produksi. Peran manusia bergeser dari eksekutor teknis menjadi pengawas dan pengarah sistem cerdas.

Gelombang peringatan juga datang dari petinggi perusahaan teknologi lainnya. CEO Anthropic, Dario Amodei, memperkirakan sekitar 50 persen pekerjaan entry-level berisiko hilang karena efisiensi mesin. Pandangan ini diperkuat oleh CEO OpenAI, Sam Altman, yang menyatakan AI berpotensi menghancurkan kategori pekerjaan tertentu. Situasi ini menimbulkan kecemasan tersendiri bagi lulusan baru yang hendak memasuki dunia kerja profesional.

Meski demikian, kemampuan AI masih memiliki keterbatasan. Hasil kerja sistem kecerdasan buatan tetap memerlukan verifikasi manusia untuk memastikan akurasi dan keamanan data. Tanpa pengawasan tersebut, risiko kesalahan fatal tetap terbuka.

Fenomena AI Washing turut memperkeruh situasi. Dalam praktik ini, sejumlah perusahaan disebut membingkai kebijakan pemutusan hubungan kerja sebagai bagian dari transformasi digital berbasis AI. Namun, sejumlah riset menunjukkan peningkatan produktivitas belum merata di berbagai sektor.

Prediksi pekerjaan kantoran terotomatisasi dalam 18 bulan memunculkan pertanyaan besar: apakah pekerja profesional siap beradaptasi? Keterampilan apa yang harus segera ditingkatkan? Di tengah percepatan teknologi, kolaborasi manusia dan AI dinilai menjadi kunci agar efisiensi mesin tidak menimbulkan gejolak sosial yang ekstrem. Adaptasi, peningkatan kompetensi digital, dan kemampuan berpikir strategis akan menentukan siapa yang mampu bertahan di era otomatisasi ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|