Jakarta, CNBC Indonesia - Perum Damri mengungkapkan armada bus untuk angkutan perintis saat ini usianya sudah mencapai 7 tahun. Direktur Utama Damri, Setia N. Milatia Moemin mengatakan saat ini armada bus perintis rata-rata sudah mencapai 7 tahun dan dinilai sudah memasuki periode tidak produktif.
Selain itu, banyaknya bus perintis milik Damri yang beroperasi di jalan yang konturnya menantang membuat pengoperasiannya bergantung pada kondisi cuaca dan alam.
"Armada Angkutan Perintis saat ini yang kami miliki berusia lebih dari 7 tahun, sudah mulai tua, dengan tantangan lapangan yang cukup menantang, karena tendernya setiap tahun kami punya kesulitan untuk membuat plan peremajaan atau penggantian, replacement dari angkutan-angkutan tersebut," kata Setia dalam paparannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (2/4/2026).
Ia pun mengungkapkan jika bus perintis tersebut tidak beroperasi karena kendala kontur jalan dan lain-lainnya, bisa berdampak ke aktivitas masyarakat yang dilalui oleh kendaraan perintis tersebut.
Seperti halnya aktivitas sekolah, di mana kehadiran bus perintis ini sangat penting bagi anak-anak sekolah di kawasan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Foto: acara ini juga mencerminkan pentingnya dialog antarpemimpin dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Bus Damri tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) di Terminal Kayuringin, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (27/3/2025). (CNBC Indonesia/Tyas Budiarto)
"Kami tahu persis bahwa apabila busnl perintis kami tidak beroperasi pada daerah-daerah 3TP tersebut, bahkan sekolah-sekolah itu karena biasanya kami angkut dari desa menuju ke distrik-distrik di mana apabila kami tidak beroperasi, sekolah pun libur karena guru-gurunya juga tidak bisa sampai ke gedung sekolahnya," lanjut Setia.
Tak hanya berdampak ke aktivitas sekolah, peranan bus perintis juga cukup penting bagi operasional pasar di daerah 3T, di mana jika bus perintis tidak beroperasi, maka pasar akan sepi dan terancam tutup karena para pedagang tidak bisa berdagang.
"Lalu pasar juga bisa sepi karena penduduk biasanya, walaupun kami memang ini angkutan penumpang, tapi biasanya mereka bawa hasil pertanian untuk dijual ke pasar, seperti cabai, aneka sayuran, bahkan hewan ternak, semuanya untuk bisa diperdagangkan di pasar-pasar di daerah tersebut," jelasnya.
Setia juga mengeluhkan terkait supply bahan bakar terkait bus perintis, karena masih minimnya ketersediaan bahan bakar di daerah 3T.
"Kami mohon support mengenai supply bahan bakarnya subsidi, karena seringkali bukan harganya tetapi ketersediaannya tidak ada, sehingga kami terpaksa harus membeli non-subsidi, yang harganya bisa mencapai Rp 13.000 - 14.000 per liternya," terangnya.
Oleh karena itu, Setia mengungkap kehadiran bus perintis masih sangat penting bagi masyarakat di daerah 3T. Ia pun berharap pemerintah bisa men-support Damri sebagai penyedia angkutan perintis di 3T.
"Kami mohon untuk perintis ini ada support yang memang kami harapkan, tentu saja kami tidak akan menaikkan tarif angkutan perintis, karena kami sudah terikat kontrak juga. Jadi kami mohon bantuannya, supportnya, dan arahannya secara langsung, sehingga kami bisa terus melayani masyarakat, terutama di daerah-daerah 3T," tutupnya.
(chd/wur)
Addsource on Google


















































