BI DIY Dorong Wartawan Adaptif di Tengah Transformasi Media

6 hours ago 4

LOMBOK BARAT – Transformasi digital yang mengubah pola konsumsi informasi masyarakat menuntut insan media untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik. Akurasi, integritas, dan keberpihakan pada kebenaran dinilai tetap menjadi fondasi utama di tengah derasnya arus informasi digital.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Capacity Building Wartawan DIY bertajuk “Peluang dan Tantangan Jurnalisme di Era Transformasi Media” yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (KPw BI DIY) di Hotel Aruna Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (9/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung hingga 11 September 2026 tersebut diikuti belasan wartawan dari berbagai media asal DIY. Selain menjadi ruang peningkatan kapasitas jurnalistik, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi wartawan untuk melihat langsung potensi ekonomi dan pariwisata NTB sekaligus memperluas perspektif dalam pemberitaan ekonomi daerah.

Kepala KPw Bank Indonesia NTB Hario Kartiko Pamungkas mengapresiasi KPw BI DIY yang memilih NTB sebagai lokasi kegiatan capacity building sekaligus memperkenalkan potensi desa wisata di daerah tersebut.

“Terima kasih menjadikan NTB sebagai tempat capacity building wartawan DIY. Kami menyadari bahwa kita harus saling belajar antara satu wilayah dengan wilayah lainnya dan mengambil pelajaran dari masing-masing daerah,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan tersebut, Rabu.

Menurut Hario, hubungan antara DIY dan NTB ke depan juga dapat terus diperkuat melalui pertukaran pengetahuan maupun kunjungan antardaerah.

Ia mengatakan NTB memiliki sejumlah potensi ekonomi yang perlu terus dikembangkan. Pada triwulan II 2026, ekonomi NTB tumbuh 7,41%. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang tiga lapangan usaha utama, yakni pertanian, pertambangan, dan perdagangan.

Di sektor pertanian, NTB memiliki posisi strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan komoditas unggulan seperti beras dan jagung. Sementara itu, sektor pertambangan, khususnya tembaga di Sumbawa, menjadi salah satu penggerak penting perekonomian NTB.

Ke depan, menurut Hario, pengembangan industri pengolahan hasil tambang menjadi penting agar potensi sumber daya alam dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah.

“Ke depan akan dikembangkan industri pengolahan yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi,” katanya.

Sementara dari sisi perdagangan dan pariwisata, aktivitas ekonomi NTB juga mendapat dorongan dari meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode libur panjang dan kunjungan wisatawan.

NTB memiliki berbagai destinasi dan infrastruktur pariwisata unggulan, mulai dari Senggigi, Bandara Internasional Lombok hingga kawasan Mandalika. Pengembangan pariwisata diharapkan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas hingga berbagai daerah di NTB.

Hario menambahkan penguatan konektivitas antarwilayah juga penting, termasuk melalui kerja sama regional Bali, NTB, dan NTT. Kolaborasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pariwisata, tetapi juga pengendalian inflasi dan penguatan hubungan ekonomi antarwilayah.

“Bagaimana Bali dan NTB lebih terhubung kuat. Untuk pengendalian inflasi, hubungan antardaerah harus lebih kuat. Kalau satu daerah membutuhkan dukungan, maka bisa dibantu daerah sekitarnya,” jelasnya.

Menurut dia, berbagai potensi tersebut perlu dikomunikasikan secara baik kepada masyarakat. Pemberitaan media yang informatif dan konstruktif dinilai dapat membantu membangun kepercayaan pelaku ekonomi terhadap daerah.

“Potensi-potensi di NTB dan kondisi ini perlu diwartakan dengan baik, sehingga para pelaku ekonomi percaya terhadap keberpihakan pemerintah pada pertumbuhan ekonomi. Ekonomi NTB baik sehingga investor juga tertarik berinvestasi di sini,” katanya.

Tantangan Media di Era Algoritma

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Darmadi Sudibyo mengatakan transformasi digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi media.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital memungkinkan media melahirkan karya jurnalistik yang lebih interaktif, adaptif, dan mampu menjangkau audiens secara lebih spesifik.

Namun, perubahan tersebut tidak boleh membuat media kehilangan fondasi utama jurnalistik.

“Di tengah arus perubahan ini yang harus dipertahankan adalah fondasi utama jurnalisme kita, masalah integritas, akurasi, dan keberpihakan kepada kebenaran,” ujarnya yang disampaikan secara daring.

Sri mengatakan kegiatan capacity building tersebut menjadi ruang bagi wartawan untuk terus belajar dan memperkuat kapasitas teknis dalam menghadapi perubahan industri media.

Ia berharap wartawan DIY dapat terus mengeksplorasi berbagai perkembangan baru dalam dunia jurnalistik sehingga mampu menghasilkan karya yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat.

“Kita akan terus menggali dan mengeksplorasi hal-hal apa yang harus terus diperdalam. Harapan kita semua teman-teman wartawan DIY ini menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas dan berdampak pada masyarakat,” katanya.

Jurnalisme Harus Berubah, Kepercayaan Tetap Dijaga

Jurnalis Tempo sekaligus salah satu pengasuh kanal Bocor Alus Politik, Stefanus Pramono, dalam kegiatan tersebut menyoroti perubahan besar dalam industri media akibat perkembangan teknologi digital dan perubahan perilaku audiens.

Menurutnya, kondisi industri media saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang cukup besar. Ia mengutip data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang mencatat 549 jurnalis kehilangan pekerjaan pada 2025.

Di sisi lain, perkembangan platform digital juga membuka ruang baru bagi pekerja media dan melahirkan berbagai bentuk media baru.

Perubahan perilaku audiens menjadi tantangan tersendiri. Stefanus menyebut setiap hari terdapat sekitar 6,5 miliar konten yang beredar, sementara masyarakat semakin terbiasa mengonsumsi informasi dalam format singkat dan visual.

“Artikel 1.000 kata kalah dengan video 30 detik,” ujarnya.

Ia juga menyebut sekitar 64% masyarakat Indonesia mendapatkan berita melalui media sosial. Kondisi tersebut membuat kualitas sebuah artikel tidak selalu menjadi faktor utama yang menentukan seberapa luas sebuah berita dikonsumsi.

“Artikel bagus kalah dengan algoritma,” katanya.

Karena itu, menurut Stefanus, media harus mampu mengubah cara berpikir. Media tidak cukup hanya memproduksi berita, tetapi juga harus memahami cara membangun jangkauan, menjaga kepercayaan publik, sekaligus mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan.

Ia merangkumnya dalam tiga hal penting, yakni change and cuan, build the trust, serta use your asset.

“Media perlu change and cuan, mengubah mindset, memperluas reach, build the trust. Use your asset,” katanya.

Menurutnya, perubahan tersebut bukan berarti mengorbankan prinsip jurnalistik. Justru di tengah banjir informasi dan dominasi algoritma, kepercayaan publik menjadi aset penting yang harus terus dijaga media.

“Kalau tidak mencoba, kita sendiri yang akan rugi,” ujarnya.

Melalui kegiatan capacity building tersebut, KPw BI DIY mendorong wartawan tidak hanya mampu mengikuti perubahan teknologi, tetapi juga semakin kuat menjalankan fungsi jurnalistik sebagai penyedia informasi yang akurat, terpercaya, dan relevan bagi masyarakat.

Di tengah perubahan lanskap media yang semakin cepat, kemampuan beradaptasi dan menjaga kepercayaan publik menjadi dua hal yang berjalan beriringan. Media dituntut bergerak mengikuti zaman, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai dasar jurnalistik. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|