
Gumuk Pasir Parangtritis - Antara
Harianjogja.com, BANTUL — Pemerintah Kabupaten Bantul mempercepat langkah penyelamatan salah satu bentang alam paling langka di Indonesia, Gumuk Pasir Parangkusumo. Kawasan yang selama ini tergerus aktivitas manusia kini mulai dipulihkan dengan cara yang cukup drastis: membersihkan ribuan vegetasi di zona inti.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan pohon dan aktivitas di kawasan inti dinilai menghambat proses alami pembentukan gumuk pasir. Padahal, keberadaan gumuk pasir sangat bergantung pada aliran angin yang bebas tanpa penghalang.
Kepala Bappeda Bantul, Ari Budi Nugroho, menegaskan bahwa penataan ini merupakan bagian dari strategi besar penataan kawasan pantai selatan (Pansela) yang kini mulai dijalankan setelah masterplan rampung disusun.
“Penebangan vegetasi sedang berjalan. Ini bagian dari upaya mengembalikan fungsi alami gumuk pasir,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Zona Inti Harus Bebas Gangguan
Dalam konsep konservasi, zona inti Gumuk Pasir Parangkusumo seharusnya steril dari berbagai gangguan, baik vegetasi, bangunan, maupun aktivitas manusia.
Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Banyak area yang tertutup pohon, termasuk cemara udang, sehingga menghambat pergerakan angin sebagai faktor utama pembentuk gumuk.
“Kalau ingin gumuk pasir hidup kembali, maka hambatan seperti vegetasi harus dihilangkan,” jelas Ari.
Dengan dibukanya ruang angin, diharapkan pasir dapat kembali bergerak dan membentuk lanskap alami seperti sebelumnya.
Restorasi Bertahap Sejak 2024
Kepala Satpol PP Bantul, R. Jati Bayubroto, menyebut program ini bukan langkah instan. Restorasi telah dimulai sejak 2024 dan ditargetkan berlangsung hingga 2027.
Saat ini, proses yang berjalan merupakan tahap ketiga. Fokus utamanya adalah membuka koridor angin dengan membersihkan vegetasi di area strategis.
“Sifatnya masih membuka lorong-lorong agar angin bisa kembali menggerakkan pasir secara alami,” ujarnya.
Namun pekerjaan ini tidak ringan. Jumlah vegetasi yang harus dibersihkan mencapai ribuan pohon, dan progresnya masih jauh dari target akhir.
Gunakan Alat Berat, Target Dua Pekan
Untuk mempercepat pekerjaan, pemerintah mengerahkan alat berat guna menebang sekaligus mencabut akar pohon. Langkah ini penting agar vegetasi tidak tumbuh kembali dan kembali mengganggu ekosistem.
Pekerjaan difokuskan di kawasan Parangkusumo hingga sisi barat dengan durasi sekitar dua pekan. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp100 juta.
“Kami pastikan akar juga dicabut supaya tidak tumbuh lagi,” kata Jati.
Wisata Tetap Jalan, Konservasi Diutamakan
Restorasi ini berjalan beriringan dengan penataan kawasan wisata. Salah satu langkah penting adalah penyempurnaan relokasi jalur jeep wisata yang sebelumnya melintasi zona konservasi.
Pemkab Bantul berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Tantangan: Anggaran dan Luas Kawasan
Meski progres terus berjalan, tantangan terbesar terletak pada keterbatasan anggaran. Luasnya area yang harus ditata membuat proses restorasi tidak bisa dilakukan sekaligus.
Karena itu, pemerintah memilih strategi bertahap, menyesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
“Kalau ada tambahan anggaran, penataan akan terus dilanjutkan,” ujar Jati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































