Bali Jadi Titik Temu Dunia, Tri Hita Karana Gaungkan Perdamaian

4 hours ago 4

Harianjogja.com, BALI— Pesan perdamaian menggema dari Bali ketika pemimpin global, tokoh spiritual, akademisi, generasi muda, dan perwakilan masyarakat dari lebih dari 70 negara berkumpul dalam Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026. Forum tersebut mengajak dunia menghidupkan kembali kedamaian dari dalam diri, antarsesama, hingga hubungan manusia dengan seluruh kehidupan.

Upacara refleksi tersebut digelar di Sunset Mandala, Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, pada 5 September 2026 sebagai bagian penting dari rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 yang berlangsung 2-7 September 2026.

Mengusung tema “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”, pertemuan tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk berhenti sejenak, melakukan perenungan, dan memaknai kembali konsep perdamaian di tengah disrupsi teknologi serta fragmentasi global.

Para delegasi yang hadir berasal dari berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, teknologi, akademisi, masyarakat sipil, hingga komunitas lokal. Pertemuan lintas negara dan sektor itu sekaligus menempatkan kearifan lokal Bali sebagai bagian dari percakapan global mengenai masa depan manusia.

Refleksi Perdamaian

Bali Harmony Encounter Week 2026 sebelumnya dibuka melalui Bali Harmony Dialogue yang berlangsung pada 3 September 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus, KEK Kura Kura Bali.

Forum tersebut menjadi bagian awal dari inisiatif AI World Congress Bali dan mempertemukan para pakar dari tiga sektor untuk membahas kesenjangan AI global.

Dalam kuliah umum bertajuk “Intelligence: Natural and Artificial”, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, memaparkan peta jalan strategis bagi negara berkembang agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi dapat mengambil peran sebagai arsitek dalam tata kelola serta riset AI global.

Agenda lain berupa Consultative Dialogue on Youth juga mempertemukan inovator muda dan para perintis industri. Mereka mendorong terbentuknya kerangka pendidikan yang tidak hanya mengutamakan kemampuan teknis, tetapi juga kepemimpinan etis dan pendekatan yang berpusat pada manusia.

Sementara itu, pada 4-6 September 2026, World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress mempertemukan delegasi dari lebih dari 140 universitas di 70 negara. Kongres tersebut mengangkat tema “Artificial Intelligence and Human Meaning” untuk memastikan suara generasi muda dan kearifan lokal tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan etika teknologi masa depan.

Kegiatan itu turut dihadiri Ketua Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia Luhut B. Pandjaitan dan Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutya Hafid.

Doa Lintas Agama

Suasana berbeda terlihat dalam Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony. Berlangsung dengan latar matahari terbenam di tepi laut, acara tersebut diisi doa lintas agama dan pertunjukan kelompok tari Bumi Bajra, termasuk Barong dari Puri Ubud.

Pertunjukan tersebut berlangsung di hadapan Tjokorda Gde Putra Sukawati dan Tjokorda Gde Raka Sukawati, beserta anggota keluarga kerajaan dan para tokoh adat dari Puri Agung Singaraja, Puri Agung Karangasem, Puri Agung Payangan, Puri Peguyangan, Puri Santrian, Puri Agung Klungkung, Puri Taensiat, Puri Agung Denpasar, serta Puri Agung Singasana Tabanan.

Sejumlah tokoh nasional dan internasional juga hadir, di antaranya Mari Elka Pangestu, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia; Pdt. Mgr. Indunil Janakaratne Kodithuwakku Kankanamalage, Sekretaris Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci; Pastor Marcin Schmidt; Maria Paz, Direktur Proyek Internasional Scholas Occurrentes; serta para pemimpin muda dari Program Young Changemakers yang mewakili seluruh benua.

Alunan instrumen musik tradisional Bali, koreografi, dan ritme sakral menciptakan suasana perenungan mendalam. Bahkan, suasana tersebut disebut mampu membuat sejumlah peserta meneteskan air mata haru dan menghadirkan kesunyian bersama yang menyerupai suasana sakral Nyepi.

Momen solidaritas global juga ditandai dengan pengibaran Bendera Perdamaian SDG 16 dengan Merpati Perdamaian, disertai narasi dari Sutasoma yang mengajak masyarakat bersatu dalam keberagaman.

Semangat Nyepi, sebagai hari hening suci Bali, menjadi inspirasi bagi upacara tersebut untuk tidak berhenti pada pertunjukan budaya. Refleksi tersebut diarahkan menjadi ruang keheningan, perenungan diri, sekaligus pembaruan.

Budaya Perdamaian

Nilai lokal Bali kemudian dipertemukan dengan gagasan culture of encounter yang dikembangkan Scholas Occurrentes, organisasi yang didirikan Paus Fransiskus pada 2013.

Tri Hita Karana sendiri menekankan tiga hubungan utama dalam kehidupan, yakni keselarasan manusia dengan Sang Pencipta melalui Parahyangan, hubungan harmonis antarmanusia melalui Pawongan, serta hubungan manusia dengan alam melalui Palemahan.

Ketiga prinsip tersebut menjadi landasan refleksi mengenai bagaimana perdamaian dapat dibangun tidak hanya melalui hubungan antarnegara, tetapi juga melalui hubungan manusia dengan dirinya sendiri, masyarakat, serta lingkungan.

Saat matahari terbenam, seluruh peserta di Sira Village maupun mereka yang mengikuti acara secara digital dari lima benua diajak menyalakan lilin sembari mendengarkan lagu “Lilin-Lilin Kecil”.

Lagu yang diciptakan hampir 50 tahun lalu oleh almarhum James F. Sundah tersebut diperdengarkan di hadapan istrinya, Lia Suntoso, yang mengikuti acara secara daring dan tampak terharu menyaksikan lagu karya suaminya kembali membawa pesan yang dinilai relevan dengan kondisi dunia saat ini.

Cahaya lilin yang dinyalakan bersama kemudian membentuk hamparan cahaya di lokasi acara. Momen itu menjadi simbol harapan dan persatuan lintas agama sekaligus merepresentasikan semangat “Bali untuk Dunia”.

Wakil Presiden UID Foundation Suyoto mengatakan nilai Bhinneka Tunggal Ika dan filosofi Tri Hita Karana dapat menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan global, mulai dari konflik, kerusakan ekologis, hingga polarisasi sosial.

“Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” ujar Suyoto.

Ia mengatakan Indonesia terus mencatatkan peningkatan pada Indeks Kemajuan Manusia dan kerukunan umat beragama. Menurut dia, nilai Tri Hita Karana dapat menjadi inti ajaran yang ditemukan dalam berbagai agama dan tradisi di Indonesia.

“Di tengah tantangan global yang berat, Indonesia terus mencatatkan peningkatan pada Indeks Kemajuan Manusia dan kerukunan umat beragama. Melalui THK Universal Reflection Forum, Yayasan UID mengemban semangat Tri Hita Karana yang kami yakini menjadi inti ajaran di seluruh agama dan tradisi di Indonesia,” terang Suyoto.

Pesan mengenai pentingnya peran setiap individu dalam menciptakan perdamaian juga disampaikan jajaran Kementerian Agama.

Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, yang mewakili Prof. Dr. K.H. Nazaaruddin Umar, M.A., Menteri Agama Republik Indonesia, mengajak generasi muda dan komunitas lintas agama menjaga semangat perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.

“Transformasi besar tidak lahir dari satu cahaya raksasa, melainkan dari lilin-lilin kecil yang kita bawa bersama. Saya mengajak generasi muda dan seluruh umat beragama untuk menjaga nyala cahaya ini di rumah dan lingkungan kerja kita. Kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, kedamaian dengan seluruh kehidupan, ini bukan sekadar slogan, melainkan seruan aksi nyata yang dimulai dari kita sendiri hari ini,” jelas Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag.

Didukung Dunia Usaha

Penyelenggaraan Bali Harmony Encounter Week 2026 mendapat dukungan dari sejumlah mitra korporasi dan institusi yang memiliki komitmen terhadap transformasi tiga sektor.

Mitra tersebut antara lain Astra, PERTAMINA, Freeport Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Danantara, Sinar Mas, PT Gajah Tunggal Tbk., dan KEK Kura Kura Bali.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan adanya pandangan bahwa inovasi teknologi dan keuangan perlu berjalan bersama dengan upaya memperkuat keadilan sosial serta menjaga budaya.

Bali Harmony Encounter Week 2026 menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif teknologi, kemanusiaan, spiritualitas, dan keberlanjutan. Melalui Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony, pesan yang disampaikan tidak hanya berbicara mengenai perdamaian sebagai tujuan, tetapi juga sebagai praktik yang dimulai dari hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama, dan alam.

United In Diversity Foundation

Yayasan Upaya Indonesia Damai, yang juga dikenal sebagai United In Diversity Foundation, memfasilitasi para pemimpin tri-sektor dalam menciptakan dan menerapkan solusi berkelanjutan untuk menghadapi berbagai tantangan besar di kawasan.

Selama 22 tahun membangun kepercayaan demi masa depan bersama sebagai organisasi nirlaba, UID berdedikasi terhadap transformasi sistemik melalui inovasi sosial dengan mengembangkan kepemimpinan berbasis kesadaran dan mendorong tata kelola pemerintahan mandiri.

Tri Hita Karana Forum merupakan ajang keberlanjutan yang menjadi collateral event untuk G20. Forum tersebut diselenggarakan bersama United In Diversity Foundation, B20, dan UN Sustainable Development Solutions Network dengan dukungan berbagai mitra.

Sementara itu, Scholas Occurrentes didirikan oleh Paus Fransiskus pada 2013 sebagai gerakan pendidikan internasional yang mempromosikan perdamaian, integrasi, dan pemberdayaan pemuda melalui seni, olahraga, dan teknologi.

Di Indonesia, Scholas bekerja sama dengan mitra lokal untuk mendorong pendidikan perdamaian, dialog lintas agama, dan pemberdayaan generasi muda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|