Newswire Senin, 03 Agustus 2026 17:07 WIB

Australia mengonfirmasi kematian massal satwa liar pertama akibat flu burung H5. Hingga kini tercatat 74 kasus, tetapi belum menyerang sektor unggas. /Antara.
Harianjogja.com, JAKARTA—Australia mengonfirmasi kematian massal satwa liar pertama yang dikaitkan dengan virus flu burung H5. Peristiwa tersebut terjadi setelah sejumlah burung camar jambul besar ditemukan mati dan sakit di Baudin Rocks, pulau kecil di lepas pantai tenggara South Australia, menandai babak baru penyebaran virus yang sebelumnya hanya terdeteksi pada burung laut migran.
Laporan media lokal Australian Broadcasting Corporation (ABC) menyebutkan burung-burung yang mati maupun sakit pertama kali terpantau saat pengawasan udara pada Jumat (31/7) di Baudin Rocks yang berada sekitar 5 kilometer di selatan Cape Jaffa.
Sampel yang diambil dari lokasi kemudian dipastikan positif terinfeksi virus influenza unggas H5.
Sebelumnya, Australia menjadi satu-satunya benua yang masih bebas dari virus flu burung H5 hingga 14 Juni 2026. Setelah itu, kasus mulai ditemukan pada burung laut subantartika yang bermigrasi, terutama burung petrel raksasa yang ditemukan di pantai South Australia, West Australia, dan New South Wales.
Sudah Tercatat 74 Kasus
Pemerintah Australia mencatat hingga kini terdapat 74 kasus flu burung H5 yang telah terkonfirmasi.
Rinciannya meliputi:
South Australia: 54 kasus
West Australia: 10 kasus
Victoria: 7 kasus
New South Wales: 2 kasus
Queensland: 1 kasus
Menteri Pertanian Federal Australia Julie Collins mengatakan kematian massal satwa liar tersebut sebenarnya telah diperkirakan sejak virus mulai terdeteksi pada populasi burung liar.
"Sayangnya, kita tahu bahwa begitu flu burung H5 menyebar di satwa liar dan lingkungan alam, tidak mungkin untuk menghindari kerugian yang signifikan, seperti yang mulai kita lihat sekarang," kata Collins.
Meski demikian, Collins menegaskan hingga kini belum ditemukan bukti penyebaran flu burung H5 pada unggas maupun sistem peternakan di Australia. Risiko terhadap kesehatan manusia juga masih dinilai rendah.
"Kami telah berinvestasi dan bekerja sangat erat dengan sektor pertanian kami, khususnya sektor unggas, dalam hal peningkatan dan penguatan biosekuriti untuk melakukan segala yang kami bisa untuk mencegahnya masuk ke sistem pertanian kami," kata Collins.
Ia menambahkan penyebaran virus H5 pada satwa liar merupakan fenomena yang juga terjadi di berbagai negara. "Tetapi Anda cenderung melihat dampak penularan di seluruh dunia terkait H5," tambahnya.
Pemerintah Siapkan Dana Rp303 Miliar
Collins memperkirakan jumlah satwa liar yang terdampak akan terus bertambah karena penyebaran virus pada populasi burung liar sulit dikendalikan.
Hal senada disampaikan Menteri Lingkungan Federal Murray Watt. Menurutnya, mobilitas satwa liar membuat penyebaran virus tidak mungkin dihentikan sepenuhnya.
"Kenyataannya adalah Anda tidak dapat menghentikan burung asli dan liar terbang, dan Anda tidak dapat menghentikan hewan liar bergerak, dan itu akan berarti lebih banyak peristiwa kematian massal seperti yang telah kita lihat sekarang," kata Watt.
Ia menyebut kondisi tersebut kemungkinan menjadi awal dari perjalanan panjang dalam menghadapi dampak virus terhadap satwa liar.
"Apa yang kemungkinan akan menjadi perjalanan panjang dan sulit dalam hal dampak pada satwa liar."
Sebagai langkah penanganan, pemerintah telah mengaktifkan rencana pengelolaan nasional flu burung H5. Pemerintah federal bersama pemerintah negara bagian juga menyiapkan tambahan anggaran sebesar 24 juta dolar Australia atau sekitar Rp303 miliar untuk mendukung upaya pengendalian wabah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































