Tanda like di media sosial (ilustrasi). Dosa hukumnya jika suami membuka unggahan perempuan seksi.

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II Fraksi Gerindra dan Praktisi di bidang digitalisasi dan big data analytics.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Dalam beberapa waktu terakhir, percakapan publik di ruang digital menunjukkan arah yang menarik sekaligus mengandung pesan politik yang tidak boleh diabaikan.
Di media sosial, mesin pencari, dan platform berbagi video, tema budaya digital, nostalgia, musik, dan konten kreatif mendominasi atensi masyarakat—baik di Indonesia maupun secara global. Fenomena ini bukan sekadar tren hiburan, melainkan sinyal perubahan relasi warga dengan ruang digital itu sendiri.
Indonesia, dengan ratusan juta pengguna internet dan tingkat partisipasi media sosial yang sangat tinggi, kini hidup dalam ekonomi atensi yang sesungguhnya.
Musik daring, video pendek, dan konten kreatif menjadi arus utama konsumsi publik, melampaui berita dan informasi kebijakan.
Ini bukan sekadar preferensi, tetapi cerminan kejenuhan kolektif terhadap ruang digital yang selama ini terlalu cepat, gaduh, dan penuh kompetisi tanpa jeda.
Nostalgia—lagu lama, visual era 1990–2000-an, hingga format konten sederhana—muncul sebagai reaksi kultural. Ia memberi rasa akrab, tenang, dan manusiawi.
Dalam konteks politik kebudayaan, ini adalah isyarat bahwa publik tidak semata mencari hiburan, tetapi mencari makna dan keterhubungan emosional di tengah derasnya arus teknologi. Jika negara gagal membaca sinyal ini, ruang digital akan terus bergerak liar mengikuti logika algoritma semata, bukan kebutuhan sosial.

1 month ago
23

















































