Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah drone milik militer Rusia dilaporkan telah menghantam fasilitas penyimpanan bahan bakar nuklir bekas di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl, Ukraina pada Minggu, (07/06/2026). Hal ini terjadi saat kedua negara masih terus saling serang di tengah perang yang berkecamuk sejak 2022.
Mengutip Arab News, dalam sejumlah pernyataan, Staf Umum Kyiv dan badan atom negara tersebut menyatakan bahwa sebuah bangunan penerima kontainer telah hancur sebagian akibat serangan udara tersebut. Walau begitu, dipastikan tidak ada bahan bakar bekas yang sedang disimpan di sana pada saat serangan pesawat tanpa awak itu terjadi.
Kebakaran hebat yang sempat berkobar akibat hantaman drone tersebut akhirnya berhasil dipadamkan oleh petugas di lapangan, dan sejauh ini tidak ada laporan mengenai korban luka maupun korban jiwa dari lokasi kejadian.
Pihak pemerintah Rusia sendiri hingga saat ini belum memberikan komentar ataupun pernyataan resmi kepada publik mengenai dugaan serangan terhadap fasilitas yang terletak sekitar 15 kilometer dari pembangkit listrik Chernobyl tersebut, sebuah lokasi bersejarah yang menjadi tempat bencana nuklir terburuk di dunia pada masa lalu.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha memberikan kecaman keras melalui sebuah pernyataan resmi yang diunggah di platform media sosial X terkait tindakan berbahaya yang dilakukan oleh pasukan Kremlin tersebut.
"Ini bukan pertama kalinya pasukan Rusia menempatkan fasilitas nuklir Ukraina dalam risiko," tulis Sybiha.
Menteri Luar Negeri Ukraina tersebut juga menegaskan bahwa tindakan agresi militer dari Moskow yang menyasar area sensitif ini merupakan sebuah bentuk intimidasi berbahaya yang tidak bisa ditoleransi oleh dunia internasional.
"Blackmail nuklir Rusia dan ancaman terhadap keselamatan nuklir bersifat sistemik, disengaja, dan tidak dapat diterima," lanjut Sybiha.
Sebelumnya pada Februari 2025, sebuah drone penyerang milik Rusia juga sempat merusak lengkungan pengaman di atas reaktor Chernobyl yang sudah tidak beroperasi pasca ledakan dan pelelehan fatal pada April 1986 silam. Saat itu, pihak Rusia dengan tegas membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Hingga saat ini, pihak Kyiv dan Moskow terpantau masih terus saling melontarkan tuduhan terkait serangan yang menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia di Ukraina tenggara yang kini sedang diduduki oleh pasukan Rusia, yang merupakan fasilitas pembangkit nuklir terbesar di seluruh benua Eropa.
(tps/tps)
Addsource on Google


















































