700 Ribu Anak Tunjukkan Gejala Depresi dan Kecemasan, IDAI Soroti Pengaruh Medsos

4 hours ago 2

Ilustrasi anak bermain gawai. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Basarah Yanuarso menilai tingginya masalah kesehatan mental pada anak tak lepas dari pengaruh media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025-2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendeteksi 700 ribu di antaranya menunjukkan gejala kecemasan dan depresi.

Merespons hal ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Basarah Yanuarso menilai tingginya masalah kesehatan mental pada anak tak lepas dari pengaruh media sosial. Menurutnya, media sosial dapat berdampak negatif terutama pada anak yang kerap merasa kesepian.

la menjelaskan, anak yang merasa kesepian serta kurang mendapat perhatian orang tua, cenderung melampiaskan perasaannya di media sosial. Kondisi tersebut dapat memperparah kegalauan hingga berujung pada depresi.

"Pada anak-anak yang lonely, yang tidak punya teman curhat yang real, orang tuanya sibuk sendiri, anak tidak punya teman dan tidak bisa mencurahkan kegalauannya. Akhirnya kegalauan itu dicurahkan ke media sosial, dan ini bisa berdampak pada depresi," kata dr Piprim saat diwawancara di Rumah Vaksin Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2026).

Untuk mencegah depresi pada anak, dr Piprim mengajak orang tua lebih proaktif dalam proses pengasuhan. Menurutnya, pola asuh terbaik adalah ketika orang tua bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya.

"Jadi intinya bagaimana anak-anak itu bisa punya teman untuk dia curhat, yang paling bagus tentu dengan orang tuanya. Jadi parentingnya dibetulkan lagi, bagaimana orang tua bisa menjadi sahabat anak," kata dr Piprim.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|