Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi mulai mengurangi ketergantungannya pada Amerika Serikat (AS) di tengah memanasnya situasi keamanan Timur Tengah. Riyadh kini memperkuat hubungan pertahanan dengan Pakistan sebagai langkah baru untuk menjaga stabilitas dan keamanan kerajaan.
Langkah itu ditandai melalui penandatanganan Strategic Military Defense Agreement (SMDA) antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri Pakistan (PM) Shehbaz Sharif pada September tahun lalu. Pakta tersebut menyatakan serangan terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya.
Analis politik dan dosen Universitas RUDN Rusia, Farhad Ibragimov, menilai perjanjian ini menjadi sinyal kuat bahwa Saudi mulai mencari alternatif selain perlindungan militer AS. "Perjanjian ini secara efektif menciptakan 'payung nuklir' pertama di dunia Islam," tulis Ibragimov dalam analisanya, seperti dikutip RT, Jumat (8/5/2026).
Pakistan diketahui memiliki sekitar 150-160 hulu ledak nuklir dan sistem rudal jarak pendek hingga menengah. Meski tidak disebut secara eksplisit dalam isi perjanjian, kemampuan nuklir Islamabad dinilai menjadi faktor utama yang memperkuat posisi pertahanan Saudi.
Menurut Ibragimov, salah satu pemicu utama perubahan sikap Riyadh adalah menurunnya kepercayaan terhadap Washington. Saudi disebut melihat AS semakin sulit diandalkan sebagai pelindung utama kawasan Teluk.
"Saudi melihat AS semakin mengutamakan kepentingannya sendiri," ujarnya.
Keraguan itu menguat setelah meningkatnya konflik Iran-AS dan dukungan diam-diam Washington terhadap sejumlah langkah militer Israel di kawasan. Riyadh khawatir Iran justru akan keluar dari konflik dengan posisi geopolitik yang lebih kuat.
"Riyadh akan menghadapi tetangga yang jauh lebih kuat dibanding sebelumnya," tulis Ibragimov.
Di sisi lain, Arab Saudi juga menghadapi tekanan dari agresivitas Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Posisi kerajaan kini dinilai semakin sulit karena berada di antara Iran dan Israel yang sama-sama agresif.
Kondisi tersebut membuat Pakistan dipandang sebagai mitra strategis yang mampu memberikan efek pencegahan baru di kawasan. Ibragimov menyebut kerja sama ini bukan sekadar simbol diplomatik.
"Kerentanan ini membuat kemitraan dengan Pakistan bukan lagi sekadar isyarat diplomatik, melainkan masalah kelangsungan hidup," katanya.
Kerja sama Saudi-Pakistan sebenarnya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Personel militer Pakistan telah ditempatkan di Arab Saudi sejak 1967 dan ribuan tentara Saudi juga pernah menjalani pelatihan di Pakistan.
Namun, SMDA kini memberikan dasar hukum resmi bagi hubungan pertahanan kedua negara dan memperkuat dimensi strategisnya di tengah perubahan geopolitik Timur Tengah.
Pada April lalu, Kementerian Pertahanan Saudi mengumumkan kedatangan kontingen militer Pakistan di Pangkalan Udara King Abdul Aziz. Pengerahan itu dilaporkan mencakup pesawat tempur dan pesawat pendukung sebagai bagian implementasi awal perjanjian pertahanan tersebut.
Meski demikian, Pakistan disebut tetap berhati-hati agar tidak terseret langsung ke konflik terbuka melawan Iran. Islamabad masih berupaya mempertahankan posisinya sebagai mediator antara Teheran dan Washington.
"Pakistan mengirimkan sinyal pencegahan daripada agresi," tulis Ibragimov. Menurut dia, strategi "hadir tanpa terlibat" menjadi cara Pakistan memperluas pengaruh geopolitiknya di Timur Tengah tanpa harus masuk langsung ke medan perang.
(tfa/sef/luc)
Addsource on Google


















































