Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Eddy Soeparno menjadi salah satu pembicara kunci pada forum Asia Carbon Capture 2026 yang diselenggarakan di Crowne Plaza Kuala Lumpur City Centre, Malaysia, Selasa (12/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Eddy menegaskan transisi energi Indonesia bukan hanya agenda lingkungan, melainkan juga strategi ekonomi nasional dan penguatan ketahanan energi.
Menurut dia, Indonesia sedang memasuki fase penting transformasi ekonomi dengan target pertumbuhan menuju 8 persen. Untuk mencapai target tersebut, Indonesia membutuhkan investasi besar sekaligus transformasi sistem energi yang lebih berkelanjutan.
"Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Di satu sisi kita memiliki sumber daya energi fosil yang melimpah, tetapi di sisi lain masih menghadapi ketergantungan impor energi, terutama BBM dan LPG. Karena itu, transisi energi harus menjadi bagian dari strategi ketahanan ekonomi nasional," ujarnya seperti dikutip siaran pers, Rabu (13/5/2026).
Selain potensi energi terbarukan yang mencapai sekitar 3.600 GW, Eddy juga menyoroti posisi strategis Indonesia dalam pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS). Indonesia diperkirakan memiliki kapasitas penyimpanan karbon hingga sekitar 600 gigaton CO₂, menjadikannya salah satu negara paling potensial di kawasan Asia-Pasifik untuk pengembangan CCS.
"Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat CCS regional. Kapasitas penyimpanan karbon yang besar, posisi geografis strategis, serta meningkatnya kebutuhan dekarbonisasi di Asia menjadikan Indonesia sangat kompetitif untuk kerja sama CCS lintas negara," jelasnya.
Pimpinan MPR tersebut juga menekankan pentingnya kepastian regulasi guna mempercepat investasi rendah karbon. Ia mengapresiasi langkah pemerintah melalui berbagai regulasi strategis terkait CCS, ekonomi karbon, dan waste-to-energy yang dinilai akan memperkuat ekosistem investasi hijau di Indonesia.
Dalam forum tersebut, Eddy menyebut bahwa potensi ekonomi karbon Indonesia pada tahun 2030 dapat mencapai US$ 21 miliar, yang berasal dari sektor kehutanan, energi terbarukan, pengelolaan sampah menjadi energi, hingga CCS/CCUS.
"Potensi besar ini harus diiringi tata kelola yang kuat, koordinasi lintas sektor, dan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, serta sektor keuangan agar dapat diterjemahkan menjadi investasi nyata," tambahnya.
Menutup keterangannya, Eddy menegaskan bahwa Indonesia siap mengambil peran sentral dalam mendorong transisi energi dan pengembangan ekonomi rendah karbon di kawasan Asia-Pasifik.
"Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi global terhadap perubahan iklim, sekaligus memastikan bahwa transisi energi memberikan manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan nasional," kata Eddy yang juga Anggota Komisi XII DPR RI tersebut.
(miq/miq)
Addsource on Google

















































