Terjebak YOLO dan FOMO, Bos OJK Sebut Bahaya yang Mengincar Anak Muda

10 hours ago 5

Yogyakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan banyak anak muda yang terbawa arus fenomena sosial, dan menyebabkan mereka 'terjebak' masalah finansial. Fenomena yang dimaksud adalah FOMO (Fear of Missing Out), FOPO (Fear of Other People's Opinions), dan YOLO (You Only Live Once).

"Fenomena YOLO, FOMO, FOPO ini sangat bahaya banyak menyerang anak-anak sekarang, yang membuat mereka hidupnya terjerembab. Di masa remaja, opini temen-temannya sangat penting dan membuat yang lain harus mengikuti. Misal, hp-nya jelek bajunya jelek, langsung tidak tenang cari sana sini," kata Friderica dalam Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).

Selain itu, ada istilah quick money, dimana anak-anak muda tidak mau belajar keuangan, sehingga terjerat judi online, buy now pay later (BNPL), hingga pinjol, untuk kebutuhan konsumtif. Menurutnya, produk keuangan digital seperti Pindar dan BNPL bisa menjadi solusi untuk produktif atau saat mendesak.

"Yang salah ketika menggunakan ini untuk konsumtif," ujarnya.

Fenomena ini menurutnya juga didorong oleh digitalisasi, yang sangat merubah kehidupan. Dahulu, jika ingin mengirimkan uang, masyarakat harus datang dan mengantre di bank. Sekarang semua bisa dilakukan dalam satu genggaman.

Namun, perlu diingat, digitalisasi tidak hanya menawarkan kemudahan, melainkan juga ancaman siber. Kejahatan siber di era digital ini bisa membuat korbannya kehilangan uang tanpa kekerasan.

"Hati-hati dengan digitalisasi kalian potensi jadi korban kehilangan uang. Kalau dulu orang merampok harus nyopet kekerasan, sekarang kalian sendiri bisa dengan sukarela kasih password OTP itulah fenomena digital kalian harus hati-hati," tegas Frederica.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|