Subsidi-Kompensasi Energi Melonjak 382,6% di Februari 2026, Karena Ini

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Belanja subsidi dan kompensasi mengalami kenaikan pesat dalam dua bulan pertama tahun ini dibanding catatan periode yang sama pada 2025.

Hingga akhir Februari 2026, nilai belanja subsidi dan kompensasi mencapai Rp 51,5 triliun, atau setara 11,5% terhadap target APBN 2026. Namun, melonjak hingga 382,5% dibanding Februari 2025.

Terdiri dari kenaikan pesat belanja kompensasi yang mencapai Rp 44,1 triliun, sedangkan belanja subsidi hanya senilai Rp 7,4 triliun, lebih rendah dari catatan periode yang sama tahun lalu Rp 10,7 triliun.

"Jadi Rp 44,1 triliun itu sesuai dengan janji kita untuk melunasi secara bertahap utang kompensasi 2025, maka itu kalau dilihat belanja subsidi dan kompensasi meningkat pesat di awal 2026 ini, kalau 2025 hanya pure subsidi," kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Secara keseluruhan, realisasi belanja subsidi dan kompensasi ini juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah Indonesia alias ICP, depresiasi nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume konsumsi BBM, LPG, dan listrik.

Kementerian Keuangan mencatat, volatilitas harga minyak terjadi akibat dinamika geopolitik global, sehingga meningkatkan realisasi subsidi energi, meskipun Indonesia telah memiliki pengalaman menghadapi kondisi tersebut, termasuk saat lonjakan harga energi pada konflik Rusia-Ukraina pada 2022.

Adapun khusus untuk subsidi yang digelontorkan sampai dengan akhir Februari 2026, terdiri dari subsidi BBM sebesar 1,64 juta kilo liter, meningkat 11,2% dari realisasi pada periode yang sama tahun lalu 1,48 juta kilo liter.

Lalu, untuk LPG 3 kg realisasinya 740,9 juta kilogram atau naik 7,5% dari Februari 2025 sebesar 689,1 juta kilogram. Listrik bersubsidi juga naik dari 41,8 juta pelanggan menjadi 42,7 juta atau sekitar 2,2% pertumbuhannya.

Untuk subsidi pupuk, realisasinya per akhir Februari 2026 sebesar 1,4 juta ton, naik 16,6% dari periode yang sama tahun lalu 1,2 juta ton, serta debitur KUR juga naik menjadi 0,8 juta atau 42,5% dari tahun lalu 0,5 juta.

(arj/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|