Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meluruskan perihal informasi terkait dengan pasokan atau stok bahan bakar minyak atau BBM Indonesia yang dikatakan hanya cukup untuk 20 hari.
Menurutnya, stok BBM sekitar 20 hari bukan berarti akan habis dalam waktu tersebut. Dia mengatakan jumlah hari itu akan terus terakumulasi setiap harinya, karena konsumsi harian juga terjadi. Dengan demikian, jika stok BBM berkurang, PT Pertamina (Persero) pasti akan kembali menambah pasokan sesuai dengan kapasitas penyimpanan yang tersedia.
"Setiap saat tuh kita menyetok sekian puluh hari. Kalau nggak salah 15 hari lebih ya. Ini kan stoknya 20 hari berarti berlebih bukan habis. Nanti kalau itu bisa beli lagi. Itu stok yang normal, bukan darurat," kata Purbaya dikutip Rabu (11/9/2026).
"Ada yang bilang 'wah kita tinggal 20 hari lagi.' Bukan begitu, kalau distok setahun kan rugi. Ada cost-nya. Jadi strateginya seperti itu. Sudah optimal itu," tegasnya.
Dia juga menegaskan erang antara Iran dan Amerika Serikat-Israel di kawasan penghasil minyak mentah utama dunia, yakni Timur Tengah, tak akan membuat pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) secara serampangan.
"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubah subsidi BBM, dalam pengertian naikin harga BBM. Karena kita lihat dulu seperti apa kondisinya ke depan," ungkap Purbaya.
Purbaya menekankan, evaluasi menyeluruh terhadap harga BBM baru akan dilakukan setelah sebulan ini berlalu. Karena itu, ketika harga minyak mentah dunia saat ini tembus di level US$ 113 per barel, menurutnya belum menjadi indikator utama pemerintah harus menaikkan harga BBM, sebab bisa saja dalam waktu dekat turun lagi.
"Kan asumsi kita kan setahun penuh. Kalau sekarang US$ 100, habis itu jatuh ke US$ 50 rata-ratanya kan bisa sama dengan kemarin. Jadi jangan terlalu cepat-cepat, oh judge ini, judge itu," tutur Purbaya.
(haa/haa)
Addsource on Google















































