Sertifikasi BNSP Jadi Pengakuan Kompetensi Pemandu Haji dan Umrah

5 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sertifikasi kompetensi berbasis Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dinilai penting untuk memastikan pemandu haji dan umrah memiliki kemampuan yang terukur dalam mendampingi jamaah. Kebutuhan tersebut semakin relevan karena pemandu menghadapi jamaah dengan latar belakang usia, kondisi fisik, dan tingkat pemahaman agama yang beragam.

Pentingnya sertifikasi tersebut turut terlihat dalam program Upgrading Skill dan Sertifikasi Uji Kompetensi Pemandu Ibadah Haji dan Umrah yang diselenggarakan PT Akbar Ghani Wisata (Aghata Travel) bersama LSP Pariwisata Syariah Indonesia (LSP Parsya) dan Ikatan Pembimbing Muthawwif Haji dan Umrah Indonesia (IPMHUI).

Program yang berlangsung di Graha Aghata Tour, Kota Depok, Jawa Barat, tersebut diikuti 12 peserta dari sejumlah daerah. Pembekalan digelar pada Senin (14/9/2026), sedangkan uji kompetensi di hadapan asesor berlangsung pada Kamis (17/9/2026).

Kepala LSP Pariwisata Syariah Indonesia Wardi Taufik mengatakan, sertifikasi kompetensi menjadi instrumen untuk mengakui kemampuan para petugas yang bekerja dalam pelayanan haji dan umrah.

"Sertifikasi kompetensi bukan sekadar selembar sertifikat, tetapi bentuk pengakuan negara bahwa seorang pembimbing, tour leader atau tour guide haji dan umrah benar-benar memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk melayani jamaah secara profesional, aman, nyaman, dan sesuai tuntunan syariah," kata Wardi berdasarkan siaran pers, Sabtu (19/9/2026).

Salah satu peserta, Pimpinan Pondok Pesantren Al Qur’an Bani Syahid Depok sekaligus Brand Ambassador Aghata Travel Ustaz Ferli Romansyah, menilai proses sertifikasi juga memberikan kesempatan untuk mengevaluasi kembali pengetahuan yang digunakan saat mendampingi jamaah.

"Sertifikasi pembimbing dan tour leader itu sangat penting selain daripada untuk melegalkan dan diakuinya kita sebagai yang berkompetensi di bidang pembimbing serta tour leader, ketika uji kompetensi dari asesor pun banyak mengingatkan kepada kita tentang hal-hal yang mungkin kita lupa, hal-hal yang kurang detail, khususnya hal-hal yang memang kadang belum terpikirkan oleh kita," kata Ferli.

Ferli mengatakan, tantangan dalam mendampingi jamaah tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan perjalanan, tetapi juga perbedaan tingkat pengetahuan mengenai manasik dan fikih. Kondisi tersebut membuat pemandu perlu memahami situasi jamaah dan menyesuaikan pendampingan selama perjalanan ibadah.

"Tantangan yang paling sering saya hadapi ketika mendampingi jamaah haji ataupun umrah di antaranya adalah tentang ketidaksetaraan pengetahuan antara jamaah satu dan yang lain. Terkhusus para jamaah senantiasa diingatkan dari mulai sebelum keberangkatan, manasik, terus ketika di Tanah Suci, bahkan banyak jamaah yang kadang lupa terhadap isi manasik tersebut padahal sudah beberapa kali manasik. Karena keheterogenan jamaah itulah yang menjadi tantangan bagi seorang pembimbing supaya bisa paham dan menyikapi setiap situasi dan kondisi," kata Ferli.

Bagi Ferli, sertifikasi juga perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan. Pengetahuan pemandu perlu terus diperbarui untuk menghadapi kebutuhan jamaah yang beragam.

"Tentunya harus bisa lebih mempertanggungjawabkan dari sertifikasi yang sudah dilakukan tersebut. Terus menerus menggali ilmu, berguru kepada siapapun yang lebih kompeten, dan tidak lupa mengkaji buku-buku tentang ibadah haji dan umrah. Intinya tidak berhenti belajar untuk bisa lebih baik lagi," kata Ferli.

Direktur Utama PT Akbar Ghani Wisata Haryanti Sonda mengatakan, sertifikasi diperlukan agar kemampuan petugas tidak hanya bergantung pada pengalaman. "Petugas haji dan umrah tidak hanya bertugas mengatur perjalanan, tetapi juga mendampingi jamaah dalam menjalankan ibadah," ujar Haryanti.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|