REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Perempuan Muslim telah menempati posisi yang terhormat dalam dunia ilmu pengetahuan sejak masa awal Islam.
Agama Islam mendorong kaum perempuan untuk menuntut ilmu dan menyebarluaskan pengetahuan, karena aktivitas tersebut dipandang sebagai ibadah sekaligus tanggung jawab sosial.
Perhatian perempuan terhadap studi keislaman semakin meningkat pada masa-masa berikutnya, terutama pada era Dinasti Zanki. Pada masa ini, muncul sejumlah ulama perempuan yang ahli dalam bidang hadis, fikih, bahasa, dan sastra.
Perjalanan keilmuan mereka ditandai dengan kesungguhan dan ketekunan. Mereka mencurahkan tenaga dan pikiran yang besar demi memperoleh ilmu pengetahuan.
Kebangkitan intelektual kaum perempuan tersebut turut memperkuat nilai-nilai keilmuan dan sikap wara’. Hal ini membuktikan bahwa perempuan Muslim merupakan mitra aktif dalam membangun kebangkitan ilmu pengetahuan dan peradaban umat Islam.
Dalam paparan Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Islam Sedunia, Syekh Muhammad ash-Shalaby, dikutip dari laman resminya, Ahad (13/9/2026), pada masa Dinasti Zanki, perhatian perempuan Muslim terhadap studi keislaman mencapai tingkat yang sangat tinggi. Mereka mempelajari ajaran Islam yang benar agar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di antara cabang ilmu yang paling banyak diminati adalah ilmu hadis. Banyak perempuan berhasil mencapai tingkat keilmuan yang tinggi dalam bidang ini, bahkan mampu bersaing dengan para hafiz dan ahli hadis terkemuka. Mereka menjadi teladan dalam hal amanah dan integritas keilmuan.
Kitab-kitab biografi ulama dan karya-karya tentang tingkatan para perawi mencatat aktivitas ilmiah yang nyata dari kalangan perempuan pada masa Dinasti Zanki.
Sumber-sumber tersebut menyebutkan nama-nama sejumlah perempuan yang berprofesi sebagai pengajar Alquran, ahli hadis, ahli fikih, sastrawati, ahli nahwu, serta pakar dalam berbagai cabang ilmu dasar lainnya.
Mengutip Al-Hayah al-Ilmiyyah fi al-Ahd az-Zanki (Kehidupan Ilmiah pada Masa Dinasti Zanki), karya Noreen Barmah Abdul Karim Noreen, banyak di antara mereka juga melakukan perjalanan dari satu wilayah Islam ke wilayah lainnya bersama mahram untuk menuntut ilmu kepada para ulama dan ahli hadis terkemuka. Mereka memperoleh ijazah keilmuan dari para syekh besar pada masanya di berbagai kota.

32 minutes ago
3
















































