Jakarta, CNBC Indonesia - Penelitian terbaru mengungkap fakta bahwa rotasi Bumi ternyata semakin melambat. Akibatnya, panjang hari di planet ini bertambah, meskipun hanya dalam hitungan milidetik.
Studi yang dilakukan peneliti geofisika dari Wina dan Zurich menemukan bahwa dalam periode 2000 hingga 2020, panjang hari di Bumi meningkat sekitar 1,33 milidetik per abad.
Ini menjadi perlambatan rotasi tercepat sejak jutaan tahun lalu, ketika mastodon raksasa dan kucing bertaring pedang masih hidup.
Penelitian tersebut memanfaatkan data paleoklimat, terutama perubahan permukaan laut global sejak periode Pliosen Akhir sekitar 3,6 juta tahun lalu.
Salah satu penulis studi, Benedikt Soja, profesor geodesi antariksa di ETH Zurich, mengatakan perlambatan ini berkaitan erat dengan perubahan iklim modern.
"Kenaikan cepat dalam panjang hari ini menunjukkan bahwa laju perubahan iklim modern belum pernah terjadi setidaknya sejak Pliosen Akhir, sekitar 3,6 juta tahun lalu," ujarnya, dikutip dari Gizmodo, Senin (16/3/2025).
Ia menambahkan, fenomena ini kemungkinan besar dipicu oleh aktivitas manusia.
Peneliti menyebut fenomena tersebut sebagai redistribusi massa benua-lautan. Ketika lapisan es di kutub dan gletser pegunungan mencair, airnya mengalir ke laut dan menambah massa air di wilayah lintang rendah dekat khatulistiwa. Penambahan massa ini menciptakan hambatan tambahan yang memperlambat rotasi Bumi.
Rekan penulis penelitian, Mostafa Kiani Shahvandi dari Universitas Wina, menggambarkan fenomena tersebut seperti atlet seluncur es.
"Seorang atlet seluncur akan berputar lebih lambat ketika ia merentangkan tangannya, dan lebih cepat ketika tangannya dekat dengan tubuh," katanya.
Untuk menghitung perubahan ini, para peneliti menggunakan data fluktuasi permukaan laut yang diperoleh dari fosil organisme laut mikroskopis bercangkang bernama benthic foraminifera.
Dari komposisi kimianya, ilmuwan dapat menelusuri perubahan permukaan laut dan kemudian menghitung dampaknya terhadap panjang hari di Bumi.
Penelitian ini juga menggunakan metode kecerdasan buatan baru yang disebut Physics-Informed Diffusion Model (PIDM), yang menggabungkan pembelajaran mesin dengan hukum fisika untuk memproses data paleoklimat yang sangat kompleks.
Meski perubahan panjang hari hanya dalam hitungan milidetik, dampaknya dinilai tetap penting. Rotasi Bumi dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pergerakan inti planet, tekanan atmosfer, hingga orbit Bulan.
Namun ke depan, perubahan iklim diperkirakan menjadi faktor yang semakin dominan.
"Pada akhir abad ke-21, perubahan iklim diperkirakan akan memengaruhi panjang hari bahkan lebih kuat dibandingkan pengaruh Bulan," ungkap Soja.
Ia mengingatkan, meskipun perubahan ini hanya dalam hitungan milidetik, dampaknya bisa menimbulkan masalah, misalnya dalam navigasi ruang angkasa presisi tinggi yang membutuhkan informasi sangat akurat mengenai rotasi Bumi.
Panjang hari di Bumi memang diketahui sangat bervariasi, meskipun perubahannya sangat kecil. Dalam beberapa periode terbaru, rotasi Bumi bahkan sempat melaju lebih cepat.
Misalnya pada 4 Juli 2024, Bumi mencatat rekor dengan menyelesaikan satu putaran penuh 1,66 milidetik lebih cepat dari biasanya.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































