Rupiah Terlemah Sepanjang Masa, Dolar AS Kini Tembus Rp17.490

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026).

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp17.490/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah terbaru.

Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,43% ke posisi Rp17.480/US$.

Sepanjang perdagangan, pelemahan rupiah sempat semakin dalam hingga menembus level psikologis Rp17.500/US$. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah intraday di posisi Rp17.525/US$.

Meski akhirnya ditutup sedikit lebih baik dari level terlemah hariannya, rupiah tetap berada dalam tekanan dan mengakhiri perdagangan di zona merah.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,29% ke posisi 98,236.

Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan hari ini meningkat karena kombinasi faktor eksternal dan domestik.

"Tekanan terhadap rupiah hari ini meningkat karena konflik di Timur Tengah masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian global," ujar Destry, Selasa (12/5/2026).

Dari sisi domestik, Destry mengatakan permintaan dolar AS juga meningkat karena faktor musiman. seperti pembayaran utang luar negeri, pembayaran dividen, serta kebutuhan untuk ibadah haji, turut mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik.

Destry menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention, baik di pasar spot, DNDF, maupun NDF. BI juga akan mengoptimalkan penggunaan seluruh instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah," kata Destry.

Meski rupiah tertekan, Destry menilai kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio Indonesia masih terus membaik.

"BI juga melihat confidence investor asing terhadap aset portofolio terus membaik. Hal ini tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke pasar SBN dan SRBI selama April sebesar Rp61,6 triliun," ungkapnya.

Selain itu, Destry menyebut likuiditas valas di pasar domestik masih cukup tinggi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang pada akhir Maret mencapai 10,9% secara year-to-date (ytd).

Dengan kondisi tersebut, BI memperkirakan tekanan terhadap rupiah yang bersifat musiman akan mereda. Nilai tukar rupiah pun diharapkan dapat kembali bergerak sesuai level fundamentalnya.

Sementara itu, pemerintah memberi sinyal akan ikut membantu Bank Indonesia dalam mengendalikan tekanan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, bantuan tersebut akan dilakukan melalui intervensi di pasar surat berharga atau bond market, dengan memanfaatkan skema dana stabilitas obligasi atau Bond Stabilization Fund (BSF).

"Kita akan mulai membantu besok. Mungkin dengan masuk ke bond market, itu yang BSF, tapi belum fund semuanya. Kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini dulu, besok mulai jalan," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tetap menaruh kepercayaan penuh kepada Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|