Rupiah Ditutup Melemah 0,30%, Dolar AS Naik Jadi Rp16.985

13 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (16/3/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,30% ke level Rp16.985/US$. Kondisi ini sekaligus memperpanjang tekanan terhadap rupiah sejak perdagangan terakhir pada pekan lalu.

Sejak pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah juga sudah dibuka melemah tipis 0,03% di posisi Rp16.940/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp16.940 - Rp16.995/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami penguatan 0,09% di level 100,446.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dari kuatnya posisi dolar AS di pasar global.

Sepanjang pekan lalu, dolar AS mencatat kenaikan mingguan terbaik sejak September 2024 dengan penguatan sekitar 1,7%. Penguatan tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah perang di Timur Tengah serta masih tingginya harga energi.

Pelaku pasar juga terus mencermati risiko rambatan konflik, terutama terkait kemungkinan terganggunya jalur perdagangan energi global. Kekhawatiran pasar meningkat seiring laporan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan serta potensi gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur vital distribusi minyak dunia.

Dengan kondisi tersebut, dolar AS masih tetap diminati sebagai aset aman. Hal ini membuat ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, menjadi terbatas.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang digelar pada Senin-Selasa (16-17/3/2026).

Konsensus CNBC Indonesia yang menghimpun pandangan dari 13 lembaga dan institusi menunjukkan hasil yang seragam. Seluruh responden memproyeksikan BI akan kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada RDG kali ini.

Bank Indonesia diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi. Pandangan ini juga sejalan dengan Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, yang menilai BI masih akan memilih menahan suku bunga pada Maret 2026 di tengah tekanan terhadap rupiah.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Maret 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik, yakni perang Iran-Israel dan AS," ujar Juniman.

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|