Putus Kuliah, Audi Temukan Harapan Baru Lewat Kopi Roro

5 hours ago 6

Putus Kuliah, Audi Temukan Harapan Baru Lewat Kopi Roro

Muhammad Audi (kanan) saat mendapat bantuan usaha Kopi Roro dari Danais DIY yang digunakannya untuk berjualan sebagai pendapatannya sehari-hari./Istimewa

Harianjogja.com, KULONPROGO—Keputusan meninggalkan bangku kuliah karena keterbatasan biaya sempat membuat Muhammad Audi mengalami kebuntuan. Namun, pria 21 tahun warga Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, itu kini menemukan jalan baru melalui usaha Kopi Roro (Kopi Roda Loro), program pemberdayaan ekonomi dan promosi Kopi Menoreh berbasis armada bergerak dari Dana Keistimewaan (Danais) DIY 2026.

Audi sebelumnya menempuh pendidikan di jurusan Informatika UIN Sunan Kalijaga. Kendala finansial dan kegagalannya mendapatkan KIP Kuliah membuat dia tidak mampu melanjutkan pendidikan hingga akhirnya memilih mengundurkan diri dari perguruan tinggi dan bekerja.

"Pas itu udah benar-benar enggak kepikiran lagi, susah banget. Ya akhirnya putusin kerja dan mengundurkan diri dari kuliah," kenang Audi saat dikonfirmasi, Senin (7/9/2026).

Kini, roda dua menjadi bagian dari perjalanan barunya. Audi memanfaatkannya untuk berjualan kopi sebagai salah satu penerima bantuan usaha Kopi Roro yang menjadi penggerak pendapatannya pribadi.

Lolos Seleksi hingga Dapat Modal Usaha

Keterlibatan Audi dalam Kopi Roro bukan semata-mata berasal dari inisiatif pribadi. Ia menjadi penerima bantuan setelah melewati proses seleksi mulai dari tingkat kalurahan, kapanewon, hingga penyaringan langsung oleh Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kulonprogo.

Para penerima manfaat juga tidak langsung dilepas untuk berjualan tanpa bekal. Sebelum terjun menjajakan kopi di jalanan, mereka mendapatkan pelatihan intensif mengenai teknik meracik kopi dan pengenalan karakter biji kopi, sekaligus fasilitas permodalan pendukung.

Audi menyebut seluruh fasilitas tersebut diberikan tanpa pungutan. Bahkan, selama pelatihan, penerima bantuan mendapat uang bensin untuk perjalanan bolak-balik ke dinas.

"Gratis semua, enggak ada bayar sepeser pun. Pas masa pelatihan malah kita dikasih uang bensin untuk bolak-balik ke dinas. Alat-alat, bahan baku, sampai stok biji kopi awal sekitar 8 kilogram dimodalin penuh dari dinas," tutur Audi.

Membawa Kopi Menoreh ke Jalanan

Bagi Audi, Kopi Roro bukan sekadar pilihan untuk memperoleh penghasilan setelah meninggalkan kuliah. Ia juga melihat peluang besar dari komoditas lokal yang berasal dari daerahnya sendiri.

Menurutnya, Kopi Menoreh khas Kulonprogo masih memiliki potensi untuk berkembang dan dikenal lebih luas. Ia berharap dukungan warga lokal dapat membuat Kopi Menoreh tumbuh seperti Kopi Robusta Temanggung.

"Di Kulonprogo ini katanya kan punya potensi besar soal Kopi Menoreh. Nah, itu harus benar-benar disupport sama warga lokal untuk berkembang kayak Kopi Robusta Temanggung. Dulu di Kulonprogo kan belum terkenal sama sekali," jelasnya.

Aktivitas Audi kini banyak berlangsung di wilayah Wates. Dari Alun-Alun, ia menyusuri berbagai acara kerakyatan, termasuk pertunjukan Jatilan, untuk menawarkan kopi kepada masyarakat.

Rutinitas tersebut tidak selalu menghasilkan pendapatan yang sama setiap hari. Daya beli masyarakat yang dinamis membuat omzet Audi masih fluktuatif.

"Tentu enggak pasti. Kadang kalau pas sepi cuma dapat 1 cup, kadang bisa 10 sampai 20 cup. Tapi kalau ada event besar, hasilnya lumayan. Pernah pas difasilitasi dinas jualan di GIK UGM Yogyakarta, sehari bisa dapat omzet bersih Rp500 ribu," ungkapnya.

Pengalaman Baru Setelah Meninggalkan Kampus

Meski pendapatan harian belum sepenuhnya stabil, Audi mengaku menikmati proses yang dijalaninya. Mulai dari menggiling hingga menyeduh biji kopi dilakukan langsung di lapangan.

Pengalaman menjadi barista keliling tersebut perlahan menghapus penyesalan yang sebelumnya muncul ketika ia harus meninggalkan dunia akademis. Dari jalanan dan secangkir kopi, Audi kini berusaha membangun kembali harapannya.

DPRD Soroti Putus Kuliah Audi

Wakil Ketua II DPRD Kulonprogo, Suharto, mendorong agar bantuan Kopi Roro dapat menyasar penerima secara tepat, termasuk kalangan muda seperti Audi.

Menurutnya, program tersebut diharapkan dapat membantu mengentaskan jumlah pengangguran di bumi Binangun. Namun, Suharto juga menyoroti keputusan Audi untuk putus kuliah yang menurutnya seharusnya dapat ditanggulangi sehingga tetap dapat mengakses pendidikan tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|