
Aktivitas penarikan retribusi di TPR Baron di Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Rabu (20/5/2026).Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Kinerja sektor pariwisata di Gunungkidul terus menunjukkan tren positif. Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga (Dispar Ekrafpora) setempat optimistis target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi wisata tahun 2026 dapat tercapai lebih cepat, bahkan sebelum memasuki semester kedua.
Hingga Mei 2026, realisasi PAD dari sektor wisata telah menembus Rp26.188.276.215 atau sekitar 72,61% dari target tahunan sebesar Rp36,06 miliar. Capaian ini dinilai cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sekretaris Dispar Ekrafpora Gunungkidul, Eko Nur Cahyo, mengatakan tren kenaikan pendapatan menjadi indikator kuat bahwa target PAD bisa tercapai dalam waktu dekat. Terlebih, momentum libur sekolah pada Juni diprediksi akan mendorong lonjakan kunjungan wisatawan.
“Perkembangan wisata Gunungkidul sangat bagus. Kami optimistis target PAD 2026 bisa terpenuhi pada pertengahan tahun,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Dari sisi kunjungan, jumlah wisatawan juga menunjukkan peningkatan signifikan. Dari target 3,2 juta pengunjung sepanjang tahun, hingga Mei sudah terealisasi sebanyak 2.115.956 orang.
Destinasi pantai masih menjadi magnet utama. Dua lokasi yang mencatat lonjakan kunjungan tertinggi adalah Pantai Drini dan Pantai Sepanjang di Kapanewon Tanjungsari.
Pantai Sepanjang menarik perhatian wisatawan setelah dilakukan penataan kawasan yang membuat tampilannya semakin rapi dan nyaman. Sementara itu, Pantai Drini didukung keberadaan wahana baru seperti Drini Park dan On The Rock yang menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung.
“Pantai lain juga ramai, tetapi peningkatan paling signifikan ada di Drini dan Sepanjang,” kata Eko.
Di sisi lain, Pemkab Gunungkidul juga terus berinovasi dalam meningkatkan layanan wisata. Salah satu langkah terbaru adalah penerapan sistem pembayaran non tunai atau cashless secara penuh di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Baron sejak 12 Mei 2026.
Kepala Dispar Ekrafpora Gunungkidul, Hary Sukmono, menjelaskan kebijakan ini bertujuan meningkatkan transparansi sekaligus memudahkan transaksi bagi wisatawan.
Menurutnya, hasil uji coba menunjukkan sekitar 80% pengunjung sudah siap menggunakan metode pembayaran non tunai. Meski demikian, masih ada sekitar 20% pengunjung—didominasi usia di atas 50 tahun—yang belum terbiasa.
Namun, kondisi tersebut telah diantisipasi melalui kerja sama dengan perbankan. Pengunjung dapat membeli kartu e-money di lokasi yang juga dilengkapi fasilitas top up saldo.
“Langkah ini untuk menekan potensi kebocoran sekaligus memberikan kemudahan transaksi bagi wisatawan,” kata Hary.
Dengan tren kunjungan yang terus meningkat dan inovasi layanan yang dilakukan, sektor pariwisata Gunungkidul diyakini akan tetap menjadi motor penggerak ekonomi daerah sepanjang 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































