PDAM Sleman Petakan Wilayah Rawan Air Hadapi Kemarau Panjang

4 hours ago 2

Harianjogja.com, SLEMAN — Menghadapi potensi musim kemarau panjang tahun 2026, PDAM Tirta Sembada Sleman bergerak lebih awal. Berbagai langkah antisipasi dilakukan, mulai dari pemetaan wilayah rawan hingga penyiapan skema distribusi darurat untuk memastikan pasokan air bersih tetap aman bagi pelanggan.

Direktur Utama PDAM Tirta Sembada Sleman, Bernadus Edy Nugroho, mengungkapkan bahwa pemetaan dilakukan berdasarkan tiga faktor utama, yakni jarak dari sumber air, elevasi wilayah, serta kepadatan pelanggan.

Sleman Barat dan Utara Paling Rentan

Hasil pemetaan menunjukkan wilayah Sleman barat menjadi salah satu kawasan paling rentan mengalami penurunan tekanan air. Daerah seperti Kapanewon Godean, Moyudan, dan Seyegan disebut memiliki risiko lebih tinggi karena jaraknya yang relatif jauh dari sumber utama serta jaringan distribusi yang masih berkembang.

Di sisi lain, kawasan padat penduduk seperti Depok dan Ngaglik juga berpotensi mengalami gangguan, terutama saat jam-jam puncak penggunaan air.

Sementara itu, wilayah Sleman utara seperti Pakem, Cangkringan, dan Turi menghadapi tantangan berbeda. Elevasi yang lebih tinggi membuat distribusi air membutuhkan tekanan lebih besar agar bisa menjangkau pelanggan secara optimal.

“Kawasan padat penduduk dan wilayah berelevasi tinggi menjadi perhatian utama kami karena berpotensi mengalami penurunan tekanan saat kemarau,” ujar Edy, Kamis (21/5/2026).

Cadangan Air Masih Aman, Tapi Tetap Waspada

Meski demikian, Edy memastikan bahwa cadangan air tanah di Sleman secara umum masih dalam kondisi cukup baik. Hal ini didukung oleh keberadaan akuifer vulkanik produktif di kawasan lereng Gunung Merapi.

Namun, ia mengingatkan adanya tren yang perlu diwaspadai, seperti penurunan muka air tanah di wilayah urban, meningkatnya penggunaan sumur bor swasta, serta potensi penurunan debit air saat puncak kemarau.

Siapkan Distribusi Darurat hingga Libatkan BPBD

Sebagai langkah antisipasi, PDAM telah menyiagakan armada distribusi air bersih untuk menjangkau wilayah-wilayah prioritas, seperti ujung jaringan, kawasan padat penduduk, dan fasilitas umum.

Dalam kondisi ekstrem, PDAM juga akan menggandeng BPBD Kabupaten Sleman serta pemerintah kapanewon hingga relawan untuk memastikan distribusi air tetap berjalan.

“Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik, termasuk saat kemarau panjang,” tegas Edy.

BMKG Ingatkan Kemarau Lebih Kering

Peringatan juga datang dari BMKG. Kepala Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menyebut kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dari kondisi normal.

Tiga risiko utama yang perlu diwaspadai yakni kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih.

Dengan kombinasi upaya antisipasi dari pemerintah dan kewaspadaan masyarakat, diharapkan dampak kemarau panjang di Sleman dapat ditekan seminimal mungkin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|