Menyapa Sasak Ende, Saat Tradisi Menyambut Wisatawan

4 hours ago 3

Harianjogja.com, LOMBOK TENGAH—Deretan rumah beratap alang-alang menjadi pemandangan pertama ketika memasuki Desa Wisata Sasak Ende di Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Sekitar 20 menit dari Sirkuit Internasional Mandalika, wajah Lombok yang ditemui terasa berbeda. Jika Mandalika identik dengan sirkuit internasional dan geliat pariwisata modern, Sasak Ende justru membawa wisatawan masuk ke kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi.

Anak-anak bermain di sekitar rumah, perempuan menenun, sementara sejumlah warga bersiap menyambut wisatawan yang datang. Kampung tersebut tetap menjadi permukiman aktif, bukan sekadar tempat yang dihidupkan ketika wisatawan berkunjung.

Kesan itu kami rasakan saat mengikuti perjalanan bersama rombongan media dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangkaian Capacity Building Wartawan DIY yang diselenggarakan Perwakilan Kantor Bank Indonesia Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).

Perjalanan tersebut seolah membawa kami memasuki ruang berbeda. Setelah melihat sisi Lombok yang modern dan cepat melalui Mandalika, Sasak Ende memperlihatkan bagaimana tradisi tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ende Berarti Pelindung

Di gerbang desa, pemandu wisata Sasak Ende, Abdurahim, menjelaskan bahwa nama Ende memiliki makna tersendiri.

“Ende artinya adalah pelindung. Kampung ini memang disiapkan sebagai tempat untuk melindungi adat budaya yang ada di Lombok pada umumnya dan Sasak pada khususnya,” ujarnya.

Makna tersebut terasa ketika perjalanan berlanjut ke dalam kampung. Rumah-rumah tradisional yang berdiri berjejer bukan bangunan pajangan, melainkan rumah yang masih dihuni masyarakat.

“Kampung ini bukan sekadar tempat destinasi, tapi merupakan tempat tinggal. Jadi masing-masing rumah itu ada penghuninya,” kata Alma.

Kondisi itu membuat pengalaman berkunjung ke Sasak Ende terasa berbeda. Wisatawan tidak hanya melihat bentuk rumah tradisional, tetapi juga dapat menyaksikan aktivitas masyarakat yang berlangsung seperti biasa.

Abdurahim menyebut Sasak Ende dihuni sekitar 175 warga yang terdiri atas 30 kepala keluarga. Setiap hari, kampung tersebut menerima kunjungan wisatawan dengan jumlah yang cukup tinggi.

Pada masa puncak kunjungan, wisatawan yang datang bahkan dapat mencapai sekitar 800 orang.

Pintu Rendah Mengajarkan Kerendahan Hati

Salah satu pengalaman pertama yang menarik perhatian adalah ketika hendak memasuki rumah adat Sasak Ende. Atap teras rumah dibuat rendah sehingga pengunjung perlu sedikit menundukkan kepala.

Gerakan sederhana itu ternyata memiliki filosofi. Menundukkan kepala ketika masuk rumah dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah.

Tidak ada papan peringatan atau aturan tertulis yang memaksa pengunjung melakukan hal tersebut. Bentuk arsitektur rumah justru seolah mengajarkan bahwa siapa pun yang datang perlu belajar merendahkan diri dan menghormati orang lain.

Keunikan lain terlihat pada lantai rumah. Lantai tanah secara rutin dilapisi campuran lumpur dan kotoran lembu.

Tradisi tersebut dilakukan secara turun-temurun dengan tujuan membuat lantai lebih padat dan tidak mudah berdebu. Proses mengoleskan campuran itu biasanya dilakukan oleh kaum perempuan sekitar dua kali dalam sepekan.

Setelah beberapa jam, bau kotoran tersebut menghilang dan lantai kembali nyaman digunakan.

Abdurahim menjelaskan lembu dan kerbau memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat petani. Hewan tersebut membantu warga mengolah sawah sehingga keberadaannya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Rumah ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, bekerja keras, dan menghormati sesama. Lantai dari kotoran lembu adalah simbol kerja keras petani, sementara pintu rendah adalah simbol penghormatan,” ujar Abdurahim.

Berjalan lebih jauh, suara anak-anak yang bermain terdengar di sekitar rumah. Perempuan masih menjalankan aktivitas menenun, sementara kehidupan warga berjalan di tengah kunjungan wisatawan.

Di titik inilah konsep wisata berbasis masyarakat terasa nyata. Wisatawan bukan hanya datang untuk mengambil foto, tetapi juga berinteraksi dengan kehidupan warga dan memahami proses di balik budaya yang mereka saksikan.

Gendang Beleq Mengiringi Prosesi Adat

Perjalanan kemudian berlanjut ke tanah lapang di tengah kampung. Suasana berubah ketika sejumlah warga mulai memainkan Gendang Beleq, kesenian khas Sasak dengan bunyi gendang berukuran besar.

Bagi masyarakat Sasak, Gendang Beleq memiliki tempat penting dalam prosesi pernikahan adat. Tarian tersebut biasanya menjadi bagian akhir dari rangkaian prosesi ketika kedua mempelai diarak menuju rumah pihak perempuan.

“Merupakan bagian ending dari prosesi adat pernikahan orang Sasak yang diarak dua sejoli ini menuju rumah sang gadis menggunakan Tarian Gendang Beleq,” katanya.

Atraksi tersebut menjadi salah satu pengalaman budaya yang dapat disaksikan wisatawan ketika berkunjung ke Sasak Ende.

Belum selesai menikmati Gendang Beleq, atraksi lain kemudian hadir, yakni Peresean.

Dua lelaki tampil sebagai pepadu. Mereka membawa rotan atau penjalin serta perisai berbahan kulit kerbau yang disebut ende. Satu orang lainnya bertugas sebagai wasit.

Suasana seketika berubah tegang ketika kedua pepadu saling berhadapan. Rotan diayunkan, sementara perisai diangkat untuk menahan serangan.

Namun, Abdurahim mengingatkan bahwa pertunjukan yang disaksikan rombongan media merupakan demonstrasi untuk wisatawan.

“Di situ ada tiga lelaki, dua di antaranya petarung, satu wasit,” ujarnya.

Dalam tradisi Peresean, tidak setiap pukulan otomatis menentukan kemenangan. Pukulan pada bagian tubuh seperti badan, pundak atau perut tidak serta-merta menghasilkan poin.

Penentuan kemenangan berkaitan dengan pukulan yang dianggap fatal, terutama jika mengenai bagian kepala.

Dua Wajah Pariwisata Lombok

Ketika perjalanan berakhir dan kami meninggalkan kampung, satu kesan terasa kuat. Lombok memiliki dua wajah yang dapat berdiri berdampingan.

Di satu sisi terdapat Mandalika dengan sirkuit internasional, geliat investasi dan pariwisata modern. Di sisi lain ada Sasak Ende yang mempertahankan rumah beratap alang-alang, lantai tanah, suara alat tenun serta kesenian tradisional.

Keduanya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru, keberadaan Desa Wisata Sasak Ende menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata dapat berjalan bersama pelestarian budaya.

Syaratnya, masyarakat tetap menjadi bagian penting di dalamnya. Sebab, ketika rumah masih dihuni, tradisi masih dijalankan dan kesenian masih dimainkan, budaya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|