REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di bawah terik matahari yang menggantung tanpa teduh, Ingotan Tua Draha berdiri di atas tanah yang tak lagi ia kenali sebagai rumah. Lumpur yang mengering membungkus sisa-sisa bangunan, menelan dinding, ruang, dan kenangan yang dulu menyatu dalam kehidupan keluarganya. Hanya sepotong bagian yang masih tampak, seperti jejak yang menolak sepenuhnya hilang, menjadi penanda bahwa di tempat itu pernah berdiri sebuah rumah yang hangat.
Sesekali ia memandang kosong ke arah timbunan tanah. Di situlah dulu anak-anaknya bermain, istrinya memasak, dan keluarga itu menjalani hari-hari sederhana. Kini, semuanya lenyap dalam sekejap, tersapu banjir bandang dan longsor yang menerjang Kecamatan Tukka, Kelurahan Pasar Tukka.
Bencana itu bukan sekadar meruntuhkan rumah, tetapi juga memaksa Ingotan dan keluarganya memulai hidup dari titik nol. Bersama istri dan delapan anaknya, ia memilih mengontrak rumah sederhana. Keputusan itu bukan karena kelonggaran ekonomi, melainkan karena kebutuhan yang tak bisa ditunda.
“Kalau di tenda tidak mungkin. Kami ini banyak, ada delapan anak saya,” ujarnya pelan.
Bagi Ingotan, kenyamanan anak-anak adalah hal yang tak bisa ditawar. Ia tak ingin mereka tumbuh dalam himpitan ruang pengungsian yang sempit dan serba terbatas. Namun pilihan itu membawa konsekuensi lain: pengeluaran baru di tengah kondisi ekonomi yang justru melemah.
Sebelum bencana, kehidupan di Pasar Tukka berjalan dalam ritme yang akrab. Warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani padi dan karet hidup dalam jalinan gotong royong yang kuat. Ladang dan kebun menjadi tumpuan, sekaligus ruang pertemuan sosial yang mengikat hubungan antartetangga.
Kini, lanskap itu berubah drastis. Sawah tertimbun, kebun lenyap, dan aktivitas ekonomi seolah berhenti. Kampung yang dulu riuh kini menjadi sunyi, menyisakan ruang kosong yang sulit diisi.
Dalam keterbatasan itu, banyak warga, termasuk Ingotan, mulai beralih profesi. Pekerjaan sebagai kuli bangunan menjadi salah satu jalan untuk bertahan hidup, meski tak menentu.
“Kebun habis, kerjaan juga tidak ada. Sekarang kalau ada kawan mengajak kerja bangunan, baru ikut,” katanya.
Tabungan yang dulu disiapkan untuk masa depan perlahan habis, digunakan untuk membayar biaya kontrakan dan kebutuhan sehari-hari. Namun bagi Ingotan, itu bukan kehilangan, melainkan bentuk ikhtiar menjaga keluarganya tetap aman.
Harapan sempat muncul ketika ada janji bantuan uang sewa dari pemerintah. Namun hingga berbulan-bulan setelah bencana, bantuan itu belum juga diterima.
“Katanya ada bantuan kontrak, tapi belum cair. Sudah lama kami tunggu,” ucapnya, dengan nada yang lebih pasrah daripada kecewa.
Meski demikian, ia memilih bertahan. Di tengah ketidakpastian, ia tak memberi ruang bagi dirinya untuk menyerah. Baginya, selama anak-anaknya masih bisa tidur dengan tenang, perjuangan itu masih layak dilanjutkan.
sumber : Antara

5 hours ago
5

















































