Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores saat kampanye penutupannya di Caracas pada 17 Mei 2018.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Jaksa Agung AS Pam Bondi mengatakan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores yang ditangkap pasukan AS di Caracas akan menghadapi dakwaan di distrik selatan New York. Hal ini menyusu pengumuman Presiden AS Donald Trump soal operasi militer besar-besaran di Caracas yang berujung penangkapan Maduro.
Dakwaan yang digunakan AS termasuk “konspirasi narko-terorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat penghancur, dan konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan alat penghancur terhadap Amerika Serikat”, kata Bondi dalam sebuah postingan di X.
“Mereka akan segera menghadapi kemarahan penuh dari keadilan Amerika di tanah Amerika di pengadilan Amerika,” tambahnya.
Sementara Wakil Presiden AS JD Vance telah mengulangi tuduhan bahwa Presiden Maduro bertanggung jawab atas “perdagangan narkoba” dan mengklaim bahwa Washington telah menawarkan kepada pemimpin Venezuela “beberapa jalan keluar” sebelumnya.
“Presiden [Trump] menawarkan beberapa jalan keluar, namun sangat jelas selama proses ini: perdagangan narkoba harus dihentikan, dan minyak yang dicuri harus dikembalikan ke Amerika Serikat,” tambah Vance.
Dia mengulangi pembenaran AS bahwa Maduro adalah buronan hukum AS. “Anda tidak bisa menghindari keadilan atas perdagangan narkoba di Amerika Serikat karena Anda tinggal di sebuah istana di Caracas.”
Penangkapan Maduro mengingatkan pada masa-masa sebelumnya ketika para pemimpin lain, seperti mantan pemimpin militer Panama Manuel Noriega dan mantan Presiden Irak Saddam Hussein, ditangkap oleh AS.

1 month ago
20










































