Jakarta, CNBC Indonesia - JP Morgan, perusahaan layanan keuangan raksasa asal Amerika Serikat, menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia di tengah gejolak geopolitik.
Hal itu tercatat dalam report JP Morgan Pandora's Bog: the global energy shock of 2026. JP Morgan memetakan 52 negara konsumen energi final terbesar dunia yang mewakili 82% konsumsi energi global.
Lantas, apa rahasia di balik ketahanan energi RI tersebut?
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menilai bahwa laporan JP Morgan tersebut dipicu oleh beberapa faktor, termasuk diversifikasi sumber energi yang mampu menekan angka ketergantungan energi pada negara lain.
Bahlil menekankan bahwa optimalisasi kekayaan alam lokal, mulai dari batu bara hingga minyak sawit, telah menguatkan fondasi energi nasional di tengah gejolak geopolitik global.
"Sekalipun dalam kondisi ekonomi, dalam kondisi geopolitik yang seperti sekarang, JP Morgan mengeluarkan data dia yang dikutip oleh beberapa media, bahwa dari 52 negara yang disurvei, Indonesia menempatkan urutan kedua setelah Afrika Selatan sebagai negara ketahanan energi terbaik," ujarnya dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, dikutip Senin (4/5/2026).
Pemerintah sendiri memutuskan untuk tetap mempertahankan penggunaan batu bara sebagai salah satu sumber energi utama karena cadangannya yang melimpah di dalam negeri.
Bahlil menilai ketersediaan batu bara menjadi tameng pertahanan atau survival mode Indonesia agar masyarakat tidak terbebani oleh harga listrik yang mahal akibat mengikuti tren energi global yang tidak menentu.
"Kita itu punya cadangan batu bara yang luar biasa lho. Saya putuskan saya bilang batu bara jalan aja dulu. Ini bicara tentang survival mode. Kita bicara tentang efisiensi. Jangan kita korbankan rakyat kita dengan harga listrik yang besar," jelas Bahlil.
Sektor Bahan Bakar Minyak (BBM) juga mencatatkan sejarah baru pada tahun 2026, di mana Indonesia akan menghentikan impor Solar pada 2026 ini. Hal itu didorong oleh implementasi program biodiesel yang dicampur ke BBM sebesar 50% (B50) yang dijadwalkan akan berlaku mulai 1 Juli 2025. Campuran biodiesel ini meningkat dari saat ini yang sebesar 40% (B40).
Tak hanya program biodiesel, berkurangnya impor Solar RI pada tahun ini juga didukung dengan proyek pengembangan kilang atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang sudah diresmikan operasionalnya pada Januari 2026 lalu.
"Untuk Solar, dalam sejarah bangsa kita di 2026 alhamdulillah tidak kita lakukan lagi impor Solar karena semua sudah dalam negeri. Biodiesel dari roadmap B10 sampai dengan sekarang B40 dan di bulan Juli besok menjadi B50 itu adalah cara untuk mengkonversi substitusi impor kita," imbuhnya.
Selain Solar, pemerintah juga berencana memangkas impor bensin (gasoline). Dia membeberkan, konsumsi bensin nasional mencapai 40 juta kilo liter (kl) per tahun. Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, ini mampu menambah produksi bensin domestik hingga 5,7 juta kl bensin, sehingga porsi impor bensin juga akan menurun.
"Dengan RDMP kita operasikan itu menghasilkan 5,6 juta sampai 5,7 juta (kl) bensin. Berarti impor kita sekarang tinggal 20 juta. Dan impor ini tidak kita lakukan dari negara Middle East. Jadi tidak ada dari negara-negara yang lewat Selat Hormuz untuk BBM jadinya," paparnya.
Lebih lanjut, pemerintah juga tengah menyiapkan mandatori pencampuran bensin dengan nabati atau E20 yang ditargetkan mulai berlaku pada 2028. Program tersebut diproyeksikan mampu memangkas volume impor bensin hingga 8 juta kilo liter per tahun melalui pemanfaatan jagung, tebu, hingga singkong.
"Saya akan bikin mandatory atas perintah bapak presiden E20. Kalau kita bikin etanol E20 berarti mandatorinya di 2028 delapan juta. Kalau sekarang kita impor 20 juta, kita mandatori 20% kurang 8 juta lagi. Jadi importir kurang tinggal 12 juta," ungkapnya.
Indonesia juga berhasil mengamankan cadangan untuk satu tahun ke depan melalui diversifikasi pemasok ke wilayah Afrika hingga Rusia. Dengan kepastian stok tersebut, pemerintah memberikan garansi bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM subsidi dan LPG 3 kg setidaknya hingga akhir tahun 2026.
"Terakhir kemarin kita ambil dari Rusia. Di Rusia kita udah dapat satu tahun ini clear. Saya janjikan kepada bapak-ibu semua ya, sampai 31 Desember sekalipun harga ICP US$ 100 (per barel), insya Allah harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik. Itu kita jaga dan itulah perintah Bapak Presiden Pak Prabowo," tandasnya.
Laporan JP Morgan
JP Morgan, perusahaan layanan keuangan raksasa asal Amerika Serikat (AS), dalam laporannya Pandora's Bog: the global energy shock of 2026 memetakan 52 negara konsumen energi final terbesar dunia yang mewakili 82% konsumsi energi global.
Dalam kajian ini, negara produsen besar seperti Iran, Qatar, Russia, dan United Arab Emirates dikeluarkan dari daftar karena mendapat subsidi besar dari produksi domestik.
Fokus utama kajian ini adalah seberapa sensitif suatu negara terhadap lonjakan minyak dan gas, serta seberapa kuat penyangganya melalui gas domestik, batu bara domestik, energi terbarukan, dan nuklir.
Kajian ini menggunakan sejumlah parameter seperti energi final berguna (EJ), seberapa besar impor minyak & gas dari Selat Hormuz, skala pangsa impor minyak terhadap energi primer, konsumsi minyak & pangsa gas impor terhadap energi primer, pangsa batu bara, nuklir dan energi terbarukan domestik terhadap energi final berguna, total faktor perlindungan serta konsentrasi minyak untuk transportasi jalan sebagai pangsa energi primer.
Indonesia dinilai menjadi salah satu negara yang relatif lebih tahan menghadapi guncangan energi global, terutama ketika harga minyak dan gas melonjak akibat perang, konflik geopolitik, atau gangguan pasokan dunia. Dalam perhitungan total faktor perlindungan yakni porsi energi final berguna yang lebih sedikit terekspos terhadap guncangan global harga minyak dan gas, Indonesia ada di peringkat dua dan hanya kalah dari Afrika Selatan.
Jika hanya menghitung kombinasi ketergantungan impor minyak/gas rendah dan ketahanan tinggi, Indonesia ada di peringkat 3.
Indonesia diuntungkan karena memiliki produksi batu bara domestik besar. Dalam situasi harga minyak dan gas melonjak, negara dengan pasokan batu bara internal lebih tahan terhadap guncangan biaya energi.
Sebagai catatan, Indonesia adalah eksportir terbesar untuk batu bata thermal di dunia dan produsen no.13 terbesar untuk gas alam. Indonesia merupakan salah satu produsen gas alam penting di dunia dengan menempati peringkat ke-13 global pada 2024, dengan produksi sekitar 2.465 miliar meter kubik. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai pemain menengah, namun tetap strategis di kawasan Asia Tenggara.
Dalam pemetaan sensitivitas energi global, Indonesia mencatat Insulation Factor 77%, termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Artinya, sebagian besar kebutuhan energi nasional masih bisa ditopang dari sumber dalam negeri, sehingga dampak lonjakan harga global tidak langsung menghantam ekonomi domestik sekeras negara lain.
Bandingkan dengan negara seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura yang sangat bergantung pada impor energi. Saat harga minyak dan LNG melonjak, biaya listrik, industri, dan transportasi mereka bisa terdampak lebih cepat.
Batu bara masih menjadi tulang punggung pembangkit listrik nasional.
Artinya, ketika harga minyak dan gas naik tajam, tarif listrik di Indonesia tidak otomatis ikut melonjak setinggi negara yang bergantung pada LNG impor.
Meski masih impor LPG dan BBM, Indonesia tetap memiliki cadangan serta produksi gas alam. Pasokan gas domestik ini menjadi penyangga penting untuk industri dan pembangkit listrik.
Indonesia memang masih impor minyak, namun tingkat ketergantungannya dinilai tidak seekstrem negara-negara seperti Singapura, Jepang , Korea Selatan, dan Taiwan.
Negara-negara tersebut hampir sepenuhnya mengandalkan impor energi primer.
Bauran energi Indonesia relatif lebih beragam yang membuat shock pada satu komoditas tidak langsung mengguncang seluruh sistem energi nasional. Selain batu bara, Indonesia menggantungkan energi primer kepada pembangkit air, panas bumi, hingga biodiesel.
Dengan ekonomi bertumpu 56% terhadap konsumsi domestik, Indonesia memiliki bantalan pertumbuhan yang cukup.
Kondisi ini berbeda dengan negara yang sangat mengandalkan ekspor manufaktur seperti Korea Selatan dan Taiwan.
Pemerintah juga dibekali instrumen intervensi untuk meredam dampak lonjakan energi global, dalam bentuk subsidi BBM dan listrik hingga kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) batu bara. Dengan mekanisme ini, gejolak harga global tidak langsung diteruskan ke masyarakat.
Meski relatif tahan, Indonesia tetap memiliki sejumlah titik lemah. Produksi minyak domestik terus menurun, sementara konsumsi meningkat. Jika tidak dikendalikan maka subsidi bisa membengkak.
Karena impor BBM dibayar dalam dolar AS, lonjakan harga minyak berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
Negara-Negara Rentan
Negara-negara yang dinilai paling terekspos terhadap guncangan energi global antara lain Italia, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Spanyol, hingga Belanda.
Banyak negara tersebut sangat bergantung pada impor minyak dan gas, terutama dari kawasan Teluk.
Menariknya, China justru tergolong cukup terlindungi. Ketergantungan besar pada batu bara domestik dan produksi gas dalam negeri membuat Negeri Tirai Bambu jauh lebih kuat dari perkiraan banyak pihak.
Ini menunjukkan bahwa diversifikasi energi menjadi senjata utama menghadapi gejolak global. Negara lain yang mendapat manfaat serupa adalah India, Afrika selatan, Vietnam, dan Filipina.
Sejumlah negara juga memiliki perlindungan lain dari sumber energi nuklir. Di antaranya Prancis, Swedia, Swiss hingga Rep. Ceko.
Sementara negara dengan bauran energi terbarukan tinggi juga diuntungkan seperti Brasil, Austria dan Portugal.
(wia)
Addsource on Google

















































