Etomidate Rp97,8 Miliar Disita, Ini Bahaya Obat Bius dalam Vape

1 hour ago 3

Harianjogja.com, JAKARTA—Kasus penyelundupan etomidate kembali menjadi sorotan setelah Polresta Bandara Soekarno-Hatta menggagalkan masuknya 8,6 liter zat tersebut ke Indonesia. Barang bukti yang diduga berasal dari jaringan narkotika internasional itu memiliki nilai ekonomi sekitar Rp97,8 miliar dan kini memunculkan pertanyaan publik mengenai bahaya etomidate yang belakangan marak ditemukan sebagai campuran liquid vape.

Pengungkapan kasus ini dilakukan setelah aparat menemukan peredaran etomidate cair dari sejumlah jalur internasional. Selain nilai barang bukti yang fantastis, temuan tersebut juga mengungkap semakin berkembangnya modus penyalahgunaan zat anestesi medis untuk kebutuhan nonmedis yang berisiko mengancam keselamatan pengguna.

Polisi Gagalkan Penyelundupan Etomidate Senilai Rp97,8 Miliar

Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta, Kombes Pol Wisnu Wardana, menjelaskan barang bukti etomidate diperoleh dari pengungkapan tiga kasus berbeda yang berlangsung selama periode Februari hingga Mei 2026.

"Untuk barang bukti kita dapatkan total sebanyak 8.600 mililiter atau 8,6 liter cairan etomidate dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp97,8 miliar," ujar Wisnu dalam konferensi pers di Tangerang.

Dalam kasus tersebut, polisi menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka diduga berperan sebagai kurir yang terhubung dengan jaringan internasional dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan China. Para pelaku diketahui menerima imbalan antara Rp45 juta hingga Rp132 juta untuk setiap aksi penyelundupan yang dilakukan.

Pengungkapan itu merupakan hasil kerja sama antara Satresnarkoba Polri dan Bea Cukai Bandara Soetta. Berdasarkan estimasi aparat, keberhasilan membongkar tiga kasus tersebut berpotensi menyelamatkan sekitar 55.928 jiwa dari risiko penyalahgunaan etomidate.

"Pengungkapan ini menunjukkan Bandara Soekarno-Hatta masih menjadi target jaringan narkotika internasional untuk memasukkan etomidate ke Indonesia," kata Wisnu.

Apa Itu Etomidate dan Mengapa Digunakan di Dunia Medis?

Berdasarkan laman resmi Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII), etomidate merupakan obat anestesi intravena atau obat bius suntik yang lazim digunakan dalam tindakan medis. Zat ini pertama kali ditemukan pada 1964 dan mulai digunakan secara klinis pada 1972 sebagai alternatif pembiusan yang dinilai aman.

Etomidate dikenal memiliki keunggulan dalam menjaga stabilitas hemodinamik pasien. Dengan kata lain, obat ini relatif tidak menyebabkan penurunan tekanan darah maupun gangguan pernapasan seberat beberapa obat anestesi lainnya seperti tiopental.

Cara kerja etomidate adalah memperkuat efek asam gamma-aminobutirat (GABA), yakni zat kimia di otak yang berfungsi menghambat aktivitas sistem saraf. Ketika etomidate berikatan dengan reseptor GABA-A, aliran ion klorida ke dalam sel saraf meningkat sehingga aktivitas otak melambat dan pasien tertidur dalam waktu singkat.

Salah satu keunggulan etomidate adalah kemampuannya memberikan efek bius hanya dalam waktu 30 hingga 60 detik setelah injeksi. Efek tersebut biasanya berlangsung selama tiga hingga lima menit karena obat dimetabolisme dengan cepat oleh enzim hati. Karakteristik inilah yang membuat etomidate sering dipilih untuk pasien dengan kondisi jantung lemah maupun pasien yang mengalami syok.

Bahaya Etomidate dan Risiko Penyalahgunaannya

Meski memiliki manfaat medis yang penting, etomidate juga menyimpan risiko serius apabila digunakan secara tidak tepat. Sejak dekade 1980-an, sejumlah penelitian menemukan bahwa zat ini dapat menghambat enzim 11β-hidroksilase pada kelenjar adrenal yang berperan dalam pembentukan hormon kortisol.

Gangguan tersebut dapat muncul bahkan setelah satu kali pemberian dan bertahan selama enam hingga delapan jam. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko infeksi serta mengganggu metabolisme tubuh, terutama pada pasien dengan kondisi kritis.

Selain itu, sekitar 20% hingga 50% pasien dapat mengalami nyeri pada lokasi suntikan. Efek samping lain yang juga sering ditemukan adalah mioklonus atau gerakan otot tidak terkendali yang menyerupai kejang.

Risiko menjadi jauh lebih berbahaya ketika etomidate disalahgunakan sebagai campuran liquid vape. Penggunaan di luar pengawasan medis dapat menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, apnea atau henti napas, hingga kematian.

Sebuah laporan medis di China bahkan mencatat kematian seorang pria berusia 47 tahun akibat keracunan etomidate yang dikonsumsi secara oral. Kasus tersebut memicu edema paru atau penumpukan cairan di paru-paru serta kerusakan hati. Risiko fatal juga meningkat apabila etomidate dikombinasikan dengan opioid seperti fentanyl maupun zat stimulan lainnya karena dapat memicu overdosis.

Mengapa Etomidate Banyak Dicampur dalam Liquid Vape?

Di pasar gelap internasional, etomidate kerap diperdagangkan dalam bentuk cair karena tidak berbau dan relatif mudah disamarkan. Kondisi tersebut membuat zat ini menjadi salah satu komoditas yang banyak diselundupkan melalui berbagai jalur lintas negara.

Di Philadelphia, Amerika Serikat, etomidate bahkan ditemukan sebagai kontaminan dalam pasokan heroin dan terdeteksi pada sekitar 9% sampel narkoba ilegal sepanjang 2024.

Sementara itu, laporan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) mencatat meningkatnya temuan liquid vape yang dicampur etomidate di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, dan Kamboja. Di Hong Kong, zat ini dikenal dengan sebutan "space oil" dan dipasarkan secara ilegal sebagai alternatif ganja.

Fenomena serupa juga terjadi di Korea Selatan. Setelah pemerintah memperketat pengawasan terhadap propofol, penyalahgunaan etomidate meningkat tajam hingga akhirnya zat tersebut dikategorikan sebagai narkotika.

Seiring berkembangnya modus peredaran melalui liquid vape, aparat kepolisian dan instansi terkait terus memperkuat pengawasan di berbagai pintu masuk Indonesia guna mencegah masuknya etomidate ilegal yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|