Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku sempat lemas ketika harus membahas mengenai kinerja Bea dan Cukai serta Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan Presiden Prabowo Subianto dan para menteri lainnya.
Hal ini mengingat sorotan kepala negara dan para menteri lainnya terhadap kinerja dua direktorat di bawah Kementerian Keuangan yang dinilai kurang baik.
Purbaya mengatakan, dalam sejumlah pertemuan dengan jajaran menterinya, kini Prabowo kerap mengatakan bahwa ia yakin pemerintah bisa memperbaiki Ditjen Bea dan Cukai lebih baik ke depan, sehingga dapat menopang kebutuhan penerimaan negara yang tinggi, bersama dengan DJP.
"Dia (Presiden) bilang gini: saya lihat ada perbaikan di sana dan saya yakin kita bisa memperbaiki Bea Cukai sehingga tidak diberikan ke SGS," ucap Purbaya.
Ia pun mengaku, kini lebih percaya diri untuk menghadapi Kepala Negara dan jajaran menteri lain saat mereka mulai membicarakan dua instansi itu. Sebab, selama ini selalu merasa jengkel.
"Itu saya biasanya kalau rapat ke istana kalau mereka mulai ngomong Bea Cukai sama Pajak, gua lemes aja itu. Tapi itu penghargaan luar biasa, kita belum sampai tapi sudah dilihat ada kemajuannya, itu karena kerja keras Pak Djaka (Dirjen Bea Cukai) dan kawan-kawan," ungkap Purbaya.
Menurut Purbaya, Prabowo kini menilai sudah ada perbaikan pada Bea Cukai. Padahal, Prabowo sebelumnya ingin membubarkan Bea Cukai dan menggantinya dengan perusahaan swasta asal Swiss, Societe Generale de Surveilance (SGS) seperti kebijakan pada masa orde baru.
"Ada kemajuan untuk Bea Cukai. Saya baru tahu, beberapa minggu lalu saya rapat di Istana dengan Pak Presiden, biasanya dia selalu bilang 'Bea Cukai bubarkan, ganti SGS', selalu begitu," kata Purbaya.
"Kemarin sudah beda, tadinya saya berfikir tadinya kita harus gantikan Bea Cukai dengan SGS, tapi ternyata ada perbaikan," ungkapnya.
Purbaya menekankan, pujian yang sama juga disematkan terhadap para pegawai pajak yang kini berada di bawah komando Dirjen Pajak Bimo Wijayanto. Ia bilang kepala negara merasa sangat percaya diri untuk bisa terus mendongkrak penerimaan setelah setoran pajak pada Januari-Februari 2026 tumbuh 30%.
"Pajak saya pikir tidak bisa perbaiki ternyata setelah digebrak-gebrak Januari dan Februari naiknya 30%. Itu ucapan presiden di depan para pemimpin di indonesia. Jadi ini kan kerja sama, semua gerak bareng, tapi yang diincar sama mereka adalah pajak dan bea cukai karena pendapatan kan," tegasnya.
(haa/haa)
Addsource on Google

















































