Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia dinilai tidak lagi terbatas di kota-kota besar. Sejumlah pelaku industri teknologi menyebut, perkembangan infrastruktur dan perangkat komputasi kini memungkinkan AI diadopsi hingga ke wilayah pelosok dengan berbagai keterbatasan, termasuk akses energi dan internet.
Country Manager for FSI & PS HPE Indonesia, Henry Lo, mengatakan tantangan utama implementasi AI di daerah terpencil adalah kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan kapasitas energi yang tidak merata.
"Jadi di HPE sendiri sudah menyadari, terutama untuk Indonesia kita itu negara geografis banyak sekali kepulauan yang ada, dari besar hingga kecil. Sehingga kemampuan energi di kepalauan-kepulauan tersebut juga sangat terbatas," ujar Henry dalam sesi diskusi di Tech & Telco Forum 2026, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, solusi teknologi harus mampu menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Untuk itu, HPE sendiri punya portofolio yang beraneka ragam, mulai dari energi yang sangat kecil sampai sangat besar.
"Jadi untuk pelosok kecil kita sudah bisa provide untuk hemat energi," tegasnya.
Sementara itu, Commercial Lead Indonesia AMD, Brandon Lubis, menyoroti tantangan konektivitas internet yang kerap menjadi hambatan dalam pengembangan AI di daerah.
Untuk itu, AMD mengembangkan pendekatan komputasi yang memungkinkan pemrosesan AI dilakukan langsung di perangkat, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada cloud.
"Kita di AMD mengembangkan namanya high computing, jadi kita juga punya beberapa teknologi contoh, di mana sebuah chip dalam sebuah laptop sudah ada AI engine di dalamnya. Kayak sekarang kita punya AI engine dalam satu laptop itu bisa sampai 60 TOPS, trillion operation per second," kata Brandon.
Ia menjelaskan, pendekatan ini memungkinkan data diolah langsung di perangkat sebelum dikirim ke cloud saat koneksi tersedia, sehingga lebih efisien dan relevan untuk wilayah dengan jaringan terbatas.
"Jadi nggak hanya sekedar kita terkoneksi ke internet, ke cloud dulu, tapi kita bisa running itu ke sebuah laptop kecil, dan kemudian nanti datanya diolah di sebuah laptop, nanti baru bisa ditransfer ketika mungkin ada koneksi atau internet," jelasnya.
"Nah itu menjadi salah satu solusi yang bisa diterapkan di Indonesia dengan kendala internet atau pulau-pulau yang tersebar banyak sekali." imbuhnya.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































