Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak minyak mentah dunia terpantau melonjak tajam lebih dari 5% pada perdagangan Selasa (17/03/2026). Kenaikan drastis ini dipicu oleh kekhawatiran pasar yang kian mendalam atas keamanan di Selat Hormuz setelah sejumlah negara menolak permintaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membantu mengamankan jalur vital tersebut di tengah serangan Iran terhadap negara-negara tetangga penghasil minyak.
Lonjakan ini sekaligus membalikkan kerugian tajam yang terjadi pada hari sebelumnya. Pada Senin, harga sempat melandai setelah Kepala Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa lebih banyak stok cadangan minyak dapat dilepaskan ke pasar jika diperlukan untuk meredam gejolak pasokan.
Namun, ketegangan geopolitik nyatanya lebih mendominasi sentimen pasar. Dua kontrak utama minyak mentah dunia, yakni West Texas Intermediate (WTI) dan Brent, keduanya sempat melonjak lebih dari 5% di atas US$100 per barel sebelum akhirnya sedikit melandai.
Adapun harga spot untuk WTI pada Selasa telah menyentuh level US$98,42 per barel dan sedikit melandai jadi US$97,36 per barel pada pukul 15.50 WIB, sementara Brent sempat menyentuh level US$104,98 per barel sebelum turun menjadi US$103,87 per barel.
Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyerukan sekutu di Eropa dan wilayah lainnya untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz yang secara efektif telah ditutup oleh Iran. Trump menegaskan pada akhir pekan lalu bahwa mengamankan jalur air tersebut seharusnya selalu menjadi upaya tim, dan sekarang hal itu akan menjadi kenyataan.
Upaya Trump tersebut rupanya mendapat respons dingin dari para sekutu AS. Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan pada Senin bahwa perang yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran bukanlah urusan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Langkah Jerman tersebut diikuti oleh Inggris, Spanyol, Polandia, Yunani, dan Swedia yang semuanya menjaga jarak dari seruan Washington. Selain negara-negara Eropa, Australia dan Jepang juga memilih untuk tidak ikut bergabung dalam operasi pengamanan jalur laut tersebut.
Ketidaksediaan para sekutu ini memicu kemarahan dari Gedung Putih. Donald Trump mengatakan kepada The Financial Times pada Minggu bahwa akan menjadi hal yang sangat buruk bagi masa depan NATO jika para sekutu menolak untuk membantu.
Krisis ini pun berdampak pada jadwal diplomasi tingkat tinggi antara AS dan China. Trump mengatakan pada Senin bahwa dirinya telah meminta untuk menunda pertemuan puncak dengan pemimpin China Xi Jinping selama sekitar satu bulan karena masalah ini.
Di sisi lain, pasar keuangan juga tengah bersiap menghadapi keputusan sejumlah bank sentral pekan ini. Para analis memperkirakan adanya potensi dimulainya kembali kenaikan suku bunga untuk mengimbangi kemungkinan lonjakan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah.
Australia menjadi salah satu negara yang bergerak cepat merespons situasi ekonomi global saat ini. Otoritas Australia menyatakan pada Selasa bahwa mereka telah menaikkan biaya pinjaman karena harga bahan bakar yang melonjak tajam.
Kondisi pasar minyak saat ini tetap volatil meskipun sebelumnya sempat ada upaya intervensi pasokan. Harga minyak sempat turun pada Senin setelah bos IEA Fatih Birol memberi isyarat bahwa negara-negara anggota dapat melepaskan lebih banyak minyak dari stok strategis jika diperlukan, setelah sebelumnya menyetujui pelepasan rekor 400 juta barel pada pekan lalu.
(tps/luc)
Addsource on Google


















































