Breaking News! Rupiah Makin Perkasa, Dolar AS Turun ke Rp16.820

7 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (11/3/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di zona hijau atau menguat 0,21% ke posisi Rp16.820/US$. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Selasa (10/3/2026), rupiah berhasil menguat cukup signifikan sebesar 0,47% ke level Rp16.855/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke level 98,836.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah, yang turut membentuk arah pergerakan dolar AS.

Dolar AS cenderung bergerak stabil seiring pelaku pasar memilih menahan posisi sambil menunggu arah perkembangan lanjutan perang AS-Israel melawan Iran. Sinyal yang masih dinamis terkait potensi penyelesaian konflik membuat sentimen pasar tetap rapuh.

Pasar global sebelumnya sempat berharap Presiden AS Donald Trump akan segera mendorong akhir konflik. Namun di sisi lain, Trump juga beberapa kali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, terutama jika Teheran berupaya mengganggu aliran pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Dolar AS, yang sebelumnya sempat menguat seiring lonjakan harga minyak akibat perang yang telah berlangsung lebih dari sepekan, kini mulai kehilangan sebagian tenaganya karena muncul harapan konflik bisa mereda lebih cepat. Meski begitu, pelaku pasar masih meragukan perang akan berakhir dalam waktu dekat.

Pada Selasa (10/3/2026) waktu setempat, AS dan Israel kembali menggempur Iran dalam serangan udara yang disebut Pentagon dan warga Iran di lapangan sebagai salah satu yang paling intens sejak perang dimulai. Meningkatnya eskalasi ini turut memperbesar risiko terhadap ekonomi global, terlebih setelah Garda Revolusi Iran menyatakan akan memblokir pengiriman minyak dari kawasan Teluk jika serangan AS dan Israel tidak dihentikan.

Perkembangan yang sangat cepat di Timur Tengah membuat pelaku pasar kesulitan menghitung risiko secara akurat. Untuk sementara, banyak investor memilih bersikap hati-hati dan menunggu kejelasan arah konflik.

Pada akhirnya, setiap pergerakan indeks dolar AS akan turut mempengaruhi mata uang negara lain, termasuk rupiah.

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|