Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan drone menghantam pusat perdagangan minyak utama di Uni Emirat Arab (UEA), memicu kebakaran besar di wilayah Fujairah pada Senin (16/3/2026). Otoritas setempat mengatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun aktivitas pengisian bahan bakar kapal di salah satu hub energi penting dunia itu terpaksa dihentikan.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari, yang memicu gangguan serius pada jalur perdagangan energi global.
Menurut kantor media pemerintah di Fujairah, tim penyelamat langsung dikerahkan untuk mengendalikan api yang muncul setelah serangan drone tersebut.
"Tim Pertahanan Sipil di emirat tersebut segera merespons insiden itu dan terus melanjutkan upaya mereka untuk mengendalikannya," kata Fujairah Media Office dalam unggahan di media sosial, sebagaimana dikutip CNBC.
Meski kebakaran berhasil ditangani oleh petugas darurat, dampak dari serangan itu langsung terasa pada aktivitas energi di kawasan tersebut.
Reuters melaporkan bahwa operasi pemuatan minyak di pusat bunkering utama Fujairah dihentikan sementara akibat serangan drone tersebut, mengutip dua sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Insiden ini terjadi hanya dua hari setelah serangan drone terpisah yang juga memicu kebakaran di Fujairah pada Sabtu. Dua serangan berturut-turut tersebut menyoroti kerentanan jalur ekspor minyak utama UEA yang dirancang untuk menghindari salah satu titik paling sensitif dalam perdagangan energi global, yaitu Strait of Hormuz.
Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, lalu lintas kapal melalui jalur laut yang sangat penting tersebut hampir terhenti.
Sebagai balasan atas serangan itu, Iran menargetkan kapal-kapal yang mencoba melintasi koridor laut tersebut. Beberapa insiden penyerangan terhadap kapal telah dilaporkan dalam beberapa hari terakhir.
Adapun Fujairah memiliki posisi strategis dalam sistem ekspor energi UEA. Kota pelabuhan ini berada di ujung jaringan pipa minyak utama negara tersebut, yakni Abu Dhabi Crude Oil Pipeline atau ADCOP.
Pipa tersebut menghubungkan fasilitas minyak darat di Habshan dengan pelabuhan Fujairah dan dirancang untuk menghindari jalur Selat Hormuz yang rawan konflik.
Dengan panjang sekitar 248 mil, jaringan pipa itu diperkirakan mampu mengalirkan sekitar 1,5 juta barel minyak per hari, dengan kapasitas maksimum mendekati 1,8 juta barel per hari.
Karena itu, setiap gangguan di Fujairah berpotensi berdampak besar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada akhir pekan lalu menyatakan bahwa kepentingan AS di Uni Emirat Arab menjadi target yang sah.
Menurut pernyataan IRGC, target tersebut termasuk pelabuhan, dermaga, serta lokasi militer yang terkait dengan AS.
Media pemerintah Iran juga mengeluarkan peringatan kepada penduduk dan pekerja di sekitar beberapa pelabuhan utama di UEA agar segera meninggalkan area tersebut.
Peringatan tersebut secara khusus menyebut kawasan pelabuhan Fujairah, Jebel Ali Port dan Khalifa Port, dengan alasan adanya kehadiran pasukan militer Amerika Serikat di lokasi tersebut.
(luc/luc)
Addsource on Google

















































