Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), semakin meluas, Selasa (8/9/2026) malam.
REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sejak Senin (7/9/2026). Tim gabungan pun bekerja keras untuk memadamkan api di tengah berbagai kendala yang mereka hadapi, termasuk kecepatan angin dan arahnya yang kerap berubah dengan cepat.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka, M Syifaul Fuad, menjelaskan, berdasarkan pengukuran kecepatan angin di titik Penggung kemarin mencapai 11 knot atau kurang lebih 20 km per jam. “Itu bisa mempercepat atau menyebabkan luasan wilayah yang terbakar jadi meluas dengan cepat,” ujar Fuad kepada Republika, Kamis (10/9/2026).
Ia mengatakan, peningkatan kecepatan angin di puncak musim kemarau seperti sekarang memang biasa terjadi. Menurutnya, kondisi potensi angin kencang itu diprakirakan bisa sampai Oktober.
Selain kecepatannya, lanjutnya, arah angin juga secara dinamis memang kerap berubah-ubah. Meski secara umum, angin bertiup dari arah selatan hingga timur.
Ia melanjutkan, arah angin itu akan semakin dinamis di wilayah TNGC akibat pengaruh topografinya yang berupa pegunungan. Selain itu juga ada pengaruh perbedaan tekanan.
“Pertemuan angin gunung dan angin laut pada siang sampai sore juga menyebabkan angin berubah secara dinamis, baik arah dan kecepatan angin,” tukas Fuad.
Seperti diketahui, karhutla di wilayah TNGC pertama kali terdeteksi di kawasan Blok Cileutik, Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Senin (7/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Api kemudian merembet ke Blok Cimaung dan Blok Manguntapa. Luasan kebakaran hutan lahan TNGC diperkirakan sudah mencapai 40 hektare. Adapun area yang terbakar didominasi pohon sonokeling.

2 hours ago
3















































