Jakarta, CNBC Indonesia - Dua badan intelijen Belanda memberikan peringatan adanya peretas yang dapat menyadap akun WhatsApp dan Signal. Peretas yang disebut didukung Rusia itu mendapatkan akses ke akun yang digunakan pejabat, anggota militer dan jurnalis.
Peretasan ini dimulai dengan mengirimkan chat yang mengungkapkan verifikasi keamnana dan kode PIN. Kemudian akses akan didapatkan untuk akun pribadi dan chat grup.
"Kemungkinan peretas Rusia telah mendapatkan akses ke informasi sensitif," jelas Badan Intelijen Umum Belanda (AIVD) dan Dinas Intelijen dan Keamanan Militer Belanda (MIVD).
Kedua lembaga mengatakan aplikasi chat yang memiliki enkripsi dari ujung-ke-ujung (end-to-end encryption) populer di kalabgan pejabat pemerintah untuk berbagai informasi rahasia. Sayangnya ini juga tempat ideal pelaku untuk mengakses informasi sensitif.
Menurut pernyataan lembaga tersebut, peretas sering menyamar sebagai chatbot Dukungan Signal. Cara ini agar dapat membujuk target mengungkapkan kode dan pada akhirnya mengambil alih akun.
Cara lainnyab adalah menggunakan fitur perangkat yang terhubung dalam Singal. Lembaga tersebut menjelaskan kontak yang muncul dua kali atau nomor yang muncul sebagai akun yang dihapus bisa merujuk pada peretasan akun.
Sementara itu dalam keterangan resminya, WhatsApp menegaskan pengguna dilarang membagikan kode enam digit kepada orang lain. Anak usaha Meta juga menjelaskan pihaknya terus membangun cara perlindungan dari ancaman online.
Signal menjelaskan serangan yang ditargetkan dilakukan dengan kampanye phishing yang canggih. Modus ini didesain untuk menipu pengguna agar dapat berbagi informasi.
Perusahaan juga menegaskan baik enkriposi dan infrastrukturnya tidak terganggu sama sekali.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































